Baznas Beri Beasiswa untuk 1.000 Mahasiswa Terdampak Gempa NTT 26 Aug 2026 Ribuan ASN Dikerahkan Bersihkan Sisa Kebakaran Rumah Adat Sade 26 Aug 2026 Muktamar ke-35 NU Digelar di Jombang, Ini Jadwal Lengkapnya 26 Aug 2026 Soroti Risiko Pembiayaan Koperasi Merah Putih, Ida Nurlaela Minta Dana Desa Tak Jadi Penutup Gagal Bayar 26 Aug 2026 Kecam Pernyataan Budi Arie, Demokrat: Jangan Sampai Menimbulkan Aroma Manuver 26 Aug 2026 Green Canyon Pangandaran Diproyeksikan Jadi Destinasi Dunia 26 Aug 2026 Rekening AMPB Diblokir, Firnando: Pentingnya Klarifikasi Menyeluruh Pihak Terkait 26 Aug 2026 Masuk Desil 9 dan 10, Benarkah Tak Bisa Beli Pertalite? 26 Aug 2026 Jersey Baru Persib Diserbu Bobotoh, Pesanan Tembus 2.000 26 Aug 2026 Korban Tewas TPA Runtuh di Guinea Bertambah Jadi 34 26 Aug 2026 Baznas Beri Beasiswa untuk 1.000 Mahasiswa Terdampak Gempa NTT 26 Aug 2026 Ribuan ASN Dikerahkan Bersihkan Sisa Kebakaran Rumah Adat Sade 26 Aug 2026 Muktamar ke-35 NU Digelar di Jombang, Ini Jadwal Lengkapnya 26 Aug 2026 Soroti Risiko Pembiayaan Koperasi Merah Putih, Ida Nurlaela Minta Dana Desa Tak Jadi Penutup Gagal Bayar 26 Aug 2026 Kecam Pernyataan Budi Arie, Demokrat: Jangan Sampai Menimbulkan Aroma Manuver 26 Aug 2026 Green Canyon Pangandaran Diproyeksikan Jadi Destinasi Dunia 26 Aug 2026 Rekening AMPB Diblokir, Firnando: Pentingnya Klarifikasi Menyeluruh Pihak Terkait 26 Aug 2026 Masuk Desil 9 dan 10, Benarkah Tak Bisa Beli Pertalite? 26 Aug 2026 Jersey Baru Persib Diserbu Bobotoh, Pesanan Tembus 2.000 26 Aug 2026 Korban Tewas TPA Runtuh di Guinea Bertambah Jadi 34 26 Aug 2026

Pemanasan Laut yang Dipicu Manusia Percepat Kecepatan Angin Badai Atlantik pada 2024

Desi Rossilawati
Sabtu, 23 November 2024 | 23:35 WIB
Bagikan
Pemanasan Laut yang Dipicu Manusia Percepat Kecepatan Angin Badai Atlantik pada 2024
VISI.NEWS | BANDUNG - Studi terbaru mengungkap bahwa pemanasan suhu laut akibat aktivitas manusia meningkatkan kecepatan angin pada setiap badai Atlantik di tahun 2024. Penelitian yang diterbitkan oleh Climate Central pada 20 November 2024 menunjukkan bahwa 11 badai pada tahun ini mengalami peningkatan kecepatan angin antara 9 hingga 28 mil per jam (14-45 km/jam) sebagai dampak dari suhu laut yang sangat panas selama musim badai. "Emisi dari karbon dioksida dan gas rumah kaca lainnya telah memengaruhi suhu permukaan laut di seluruh dunia," kata Daniel Gilford, penulis studi tersebut, seperti dikutip dari AFP, Sabtu (23/11/2024). Di Teluk Meksiko, suhu permukaan laut tercatat 2,5 derajat Fahrenheit (1,4 derajat Celsius) lebih panas dari yang seharusnya jika tidak ada perubahan iklim, yang berkontribusi pada kekuatan badai yang lebih besar. Suhu yang meningkat ini juga membuat badai seperti Debby dan Oscar menjadi lebih intens, berubah dari badai tropis menjadi badai topan yang dahsyat. Beberapa badai lainnya, seperti Milton dan Beryl, bahkan naik satu kategori pada skala Saffir-Simpson, sementara Badai Helene meningkat dari Kategori 3 menjadi Kategori 4. Setiap kenaikan kategori ini membawa potensi kerusakan yang jauh lebih besar. Badai Helene, yang menjadi sangat merusak, menewaskan lebih dari 200 orang dan menjadi badai paling mematikan kedua yang melanda daratan AS dalam lebih dari 50 tahun, setelah Badai Katrina pada 2005. Pendekatan baru yang digunakan dalam studi ini memungkinkan para peneliti untuk menganalisis jalur badai dengan lebih akurat. Salah satunya menunjukkan bahwa perubahan iklim membuat suhu permukaan laut yang lebih hangat 100 kali lebih mungkin terjadi sebelum Badai Milton mendarat, yang meningkatkan kecepatan angin maksimum hingga 24 mph. Penelitian lebih lanjut yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Research Climate juga menemukan bahwa 84% badai antara 2019 hingga 2023 diperburuk oleh pemanasan laut akibat manusia. Meski penelitian ini berfokus pada Cekungan Atlantik, metode yang digunakan dapat diterapkan untuk siklon tropis secara global. Friederike Otto, ahli iklim dari Imperial College London, memuji metodologi yang digunakan dalam penelitian ini. Ia menekankan bahwa meskipun suhu global baru meningkat sekitar 1,3 derajat Celsius (2,3 derajat Fahrenheit) di atas level pra-industri, dampak dari badai yang lebih kuat akan semakin parah seiring dengan kenaikan suhu di atas 1,5 derajat Celsius (2,7 derajat Fahrenheit). Otto juga memperingatkan bahwa badai yang semakin intens ini dapat melampaui batas kategori yang ada, menciptakan ancaman baru yang lebih besar bagi masyarakat.
"Skala badai dibatasi pada Kategori Lima, tetapi kita mungkin perlu berpikir tentang apakah itu akan terus terjadi sehingga orang-orang menyadari bahwa sesuatu akan menghantam mereka yang berbeda dari semua yang pernah mereka alami sebelumnya," katanya. @ffr

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.