PASSION | Karya Sastra Sunan Bonang Dijadikan Disertasi B.J.O. Schrieke "HET BOEK VAN BONANG" dan Tersimpan di Belanda
Tuban: Sunan Bonang
Gowes menuju Tuban menempuh +/- 56 km. Jalur Lamongan ke Tuban sangat menyenangkan karena sebelah kanan jalan adalah pantai. Lalu lintas tidak begitu ramai jarang terlihat truk kontainer, sesekali melintas bus wisata religi. Namun jarang terlihat para goweser. Jalur ini menjadi obat stres setelah melalui jalur Gresik-Lamongan yang ganas (jalur "balapan" truk kontainer).
Sesekali istirahat sambil memarkirkan sepeda di pinggir Pantai Lorena. Meskipun cuaca panas namun hembusan angin laut membuat suasana damai. Hampir setiap 15 km habis sebotol minuman berelektrolit guna menghindari dehidrasi, keram dan kesemutan di tangan.
Sekitar jam 11.00 memasuki Tuban dan +/- 8 km sebelum ke tujuan, ziarah dulu ke Syech Maulana Ibrahim Asmoroqondi ayahanda Sunan Ampel yang lokasinya tidak jauh dari jalan raya. Lokasi parkir yang luas sedang dibangun di tepi pantai disamping jalan raya. Sepeda parkir dekat masjid. Setelah salat tahiyatul masjid dilanjutkan ziarah. Rehat sejenak sambil menikmati es jeruk yang ada di sekitar masjid.
Gowes lanjut lagi ke Situs Makam Sunan Bonang yang terletak sebelah timur Alun-alun Tuban atau samping Mesjid Agung Tuban.
Jalan masuk pintu utama harus melewati jalan yang dipenuhi para pedagang makanan maupun oleh-oleh atau cindera mata. Sepeda bisa masuk meskipun harus berhimpitan dengan para pengunjung yang kebanyakan para peziarah. Tiba di pintu gerbang bertepatan dengan waktu dzuhur. Di sekitar situs ada mesjid kecil untuk melaksanakan salat lima waktu. Mesjid besarnya tidak lain adalah Mesjid Agung Tuban.
Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465 dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim. Beliau adalah putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila.
Dikenal sebagai seorang penyebar Islam yang menguasai ilmu fikih, ushuluddin, tasawuf, seni, sastra, arsitektur, dan ilmu silat dengan kesaktian dan kedigdayaan menakjubkan. Beliau banyak menggubah sastra berbentuk suluk atau tembang tamsil. Diantara banyak suluk yang digubah antara lain Suluk Wujil dan yang fenomenal adalah Tombo Ati (Penyembuh Jiwa) yang sampai sekarang masih banyak dinyanyikan. Disamping itu menciptakan unsur bonang pada gamelan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!