PASSION | Karya Sastra Sunan Bonang Dijadikan Disertasi B.J.O. Schrieke "HET BOEK VAN BONANG" dan Tersimpan di Belanda

ED
Minggu, 13 Agustus 2023 | 04:51 WIB
Bagikan
PASSION | Karya Sastra Sunan Bonang Dijadikan Disertasi B.J.O. Schrieke "HET BOEK VAN BONANG" dan Tersimpan di Belanda
  • Pegowes asal Kabupaten Bandung H. Edi Sudjono pada 1-5 Muharram 1445 Hijriah kembali melakukan Gowes Solo Eksplorasi “Napak Tilas Jejak Wali Songo” (NTSI). Kali ini warga Komplek Permata Biru Blok B RT 01 RW 19, Cinunuk, Kec. Cileunyi, ini melakukannya di Jawa Timur dan Madura. Pengalaman gowes jemaah Masjid Baitul Muttaqin Cinunuk melakukan perjalanan tersebut akan dituangkan dalam beberapa tulisan di VISI.NEWS. Selamat mengikuti.

Lamongan: Sunan Drajat

SETELAH istirahat sejenak, mulai menuruni anak tangga situs Giri Kedaton siap-siap gowes lagi ke Lamongan untuk ziarah ke Sunan Bonang putra Sunan Ampel yang terletak di Desa Drajat, Kecamatan Paciran.

Sekitar pukul 10 WIB gowes dilanjutkan lagi. Cuaca mulai panas, suhu sekitar 33° C. Bagi pegowes jam 10 adalah saatnya panas mulai membara. Perkiraan gowes yang harus dilakukan sejauh 48 km. Namun di perjalan ada masalah dengan Google Maps offline, arah ditujukan ke jalan tol. Saya ubah lagi ke mode online. Perjalanan dilanjutkan, lihat rambu memang ke Lamongan namun setelah dilihat maps lho jaraknya semakin jauh 61 km. Saya istirahat dulu di warung pinggir jalan sambil minum segelas besar es tebu cuma 5 ribu saja. Setelah tanya sama pemilik warung kalo diteruskan ini jalan ke Mojokerto atau jalur alternatif ke Lamongan. Oalah nyasar 20 kilometeran mana panas membara lagi. Namun dari sini ada jalan memotong lewat Jalan Raya Klampok.

Adzan dzuhur berkumandang saatnya mencari mesjid terdekat untuk menunaikan salat. Alhamdulillah, meskipun mesjidnya kecil namun ada kulkas yang berisi air mineral yang disediakan gratis buat jamaah, segeeer, "Ini mah mesjid ramah goweser," guman dalam hati. Sambil rebahan juga ngecas HP.

Pukul 13.00 WIB gowes lanjut lagi. Ketika memasuki Jalan Raya Gresik-Lamongan jalan dipenuhi lagi truk dan kontainer. Akhirnya sampai di gapura Selamat Datang di Lamongan, alhamdulillah bahagianya. Perut sudah mulai minta diisi amunisi, saatnya makan siang. Lontong Kikil jadi pilihan menunya, makyuus.

Dari warung destinasi sekitar 28 km lagi. Dalam bayangan kalo jalan datar biasalah. Setelah gowes 18 km datar2 saja, namun lambat laun jalan mulai menanjak dan panjang mirip-mirip jalan dari Banjar ke Pangandaran. Mental mulai goyah tenaga tinggal 10 wat waktu sudah sore jalan menanjak, "Ini ujian semangat-semangat," guman dalam hati.

Namun hati terhibur dengan pemandangan sore yang indah di pegunungan.

Alhamdulillah tiba di lokasi sekitar jam 18.30 WIB. Saatnya salat magrib di komplek makam Sunan Drajat. Nampaknya komplek ini yang terluas diantara komplek para wali lainnya. Di area parkir berjejer puluhan bus yang datang dari berbagai kota. Memasuki koridor yang panjang begitu asri dengan ornamen kayu yang artistik. Setelah ziarah saatnya salat Isya tiba, ada mesjid kecil yang semuanya terbuat dari kayu, seperti rumah.

Sunan Drajat atau Raden Syarifuddin atau Raden Qosim atau Sunan Mayang Madu yang juga masih keturunan Rasulullah Saw. Beliau adalah putra dari Sunan Ampel yang terkenal karena kecerdasannya dan kedermawanannya dan pelopor pendiri panti sosial yang sangat memperhatikan nasib kaum fakir dan miskin. Beliau merupakan saudara dari Sunan Bonang. Beliau juga seorang seniman pencipta tembang mocopat yakni Pangkur. Sisa-sisa gamelan Singo meng­kok-nya Sunan Drajat kini tersimpan di Museum Daerah.

Hari sudah larut malam. Saatnya mencari tempat penginapan dan makan malam dekat situs. Soto Lamongan jadi pilihan makan malam. Saatnya istirahat tiba. Bada shlat subuh siap-siap berkemas lagi. Gowes dilanjutkan ke Situs Makam Maulana Ishaq ayahanda Sunan Giri yang berlokasi di pinggir Pantai Kemantren, sekitar 3 km dari situs Sunan Drajat.

Tiba di lokasi tampak mesjid yang cukup besar dan berdatangan para peziarah. Setelah ziarah saatnya keliling Pantai Kemantren dan sarapan pagi. Menu nasi cumi menjadi pilihan. Sarapan di pinggir pantai terasa nikmat sambil memandang laut yang luas diiringi riak-riak ombak. Perjalanan dilanjutkan lagi nenuju kota Tuban.

Tuban: Sunan Bonang

Gowes menuju Tuban menempuh +/- 56 km. Jalur Lamongan ke Tuban sangat menyenangkan karena sebelah kanan jalan adalah pantai. Lalu lintas tidak begitu ramai jarang terlihat truk kontainer, sesekali melintas bus wisata religi. Namun jarang terlihat para goweser. Jalur ini menjadi obat stres setelah melalui jalur Gresik-Lamongan yang ganas (jalur "balapan" truk kontainer).

Sesekali istirahat sambil memarkirkan sepeda di pinggir Pantai Lorena. Meskipun cuaca panas namun hembusan angin laut membuat suasana damai. Hampir setiap 15 km habis sebotol minuman berelektrolit guna menghindari dehidrasi, keram dan kesemutan di tangan.

Sekitar jam 11.00 memasuki Tuban dan +/- 8 km sebelum ke tujuan, ziarah dulu ke Syech Maulana Ibrahim Asmoroqondi ayahanda Sunan Ampel yang lokasinya tidak jauh dari jalan raya. Lokasi parkir yang luas sedang dibangun di tepi pantai disamping jalan raya. Sepeda parkir dekat masjid. Setelah salat tahiyatul masjid dilanjutkan ziarah. Rehat sejenak sambil menikmati es jeruk yang ada di sekitar masjid.

Gowes lanjut lagi ke Situs Makam Sunan Bonang yang terletak sebelah timur Alun-alun Tuban atau samping Mesjid Agung Tuban.

Jalan masuk pintu utama harus melewati jalan yang dipenuhi para pedagang makanan maupun oleh-oleh atau cindera mata. Sepeda bisa masuk meskipun harus berhimpitan dengan para pengunjung yang kebanyakan para peziarah. Tiba di pintu gerbang bertepatan dengan waktu dzuhur. Di sekitar situs ada mesjid kecil untuk melaksanakan salat lima waktu. Mesjid besarnya tidak lain adalah Mesjid Agung Tuban.

Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465 dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim. Beliau adalah putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila.

Dikenal sebagai seorang penyebar Islam yang menguasai ilmu fikih, ushuluddin, tasawuf, seni, sastra, arsitektur, dan ilmu silat dengan kesaktian dan kedigdayaan menakjubkan. Beliau banyak menggubah sastra berbentuk suluk atau tembang tamsil. Diantara banyak suluk yang digubah antara lain Suluk Wujil dan yang fenomenal adalah Tombo Ati (Penyembuh Jiwa) yang sampai sekarang masih banyak dinyanyikan. Disamping itu menciptakan unsur bonang pada gamelan.

Bahkan sebuah karya sastra karya Sunan Bonang dijadikan disertasi oleh ilmuwan Belanda B.J.O Schrike, "Het Boek van Bonang" atau buku (Sunan) Bonang yang tersimpan di perpustakaan Leiden di tahun 1870 an yang semula dimiliki seorang professor Latin di Universitas Leiden yang bernama Bonaventura Vulcaniu.

Isi dari dari karya tersebut adalah tentang “Wirasaning usul suluk” atau konsep-konsep mendasar mengenai ilmu suluk (baca: tasawuf). Tidak berlebihan apabila para walisongo adalah orang-orang jenius.

Hari semakin siang, rasa penasaran ingin melihat kemegahan Mesjid Agung Tuban yang didirikan abad ke 15 oleh Bupati Tuban pada masa Majapahit yang telah memeluk Islam, Raden Ario Tejo.

Dahulu kala masjid ini juga digunakan Sunan Bonang sebagai tempat mengajar agama Islam kepada masyarakat.

Setelah melakukan salat tahiyatul masjid istirahat sejenak dilanjutkan makan siang di depan mesjid agung. Soto ayam Tuban yang mirip-mirip Soto Lamongan dengan minuman khas Tuban, es dawet siwalan (buah lontar). Sambil mencari oleh-oleh ikan asap tongkol dan kakap, yang di cari-cari akhirnya dapat juga yang dijual disekitaran masjid agung.

Akhirnya tiba saatnya mencari agen bus jurusan Tuban-Bandung. Bus Gunung Harta yang menjadi pilihan karena bagasinya besar dan sepeda tidak perlu dibongkar pasang rodanya. Jadwal jam 17.00 berangkat dari Tuban. Sampai di Bandung jam 04.00

Tak terasa perjalanan Gowes Solo/Sendiri, Napak Tilas Sejarah Islam/Walisongo Part 2 ini di Jawa Timur sudah menempuh 321 km yg tercatat di Aplikasi Strava. Hanya berharap kepada Allah SWT semoga setiap ayuhan pedal sepeda menjadi penghapus dosa dan menjadi amal kebaikan. Dan tentunya dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat luas khususnya para goweser. Aamiin yaa robbal 'alamin. (habis) 

.....

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.