Pasar Properti Nasional Bertahan Stabil di Tengah Penyesuaian Daya Beli
Secara tahunan, tipe 55–120 tumbuh 1,5%, tipe 121–200 naik 1,6%, dan tipe ≥201 meningkat 2.3%. Permintaan dari kalangan profesional dan ekspatriat di pusat aktivitas ekonomi seperti Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, dan Kabupaten Bekasi masih menopang segmen ini, sekaligus menunjukkan kecenderungan pergeseran dari pasar beli ke pasar sewa. Sementara itu, tipe ≤54 masih mencatat penurunan -0,3% akibat meningkatnya inventori rumah seken di sejumlah wilayah.
Ringkasan Pergerakan Pasar Sewa Rumah
- DKI Jakarta: Biaya hidup yang tinggi mendorong pergeseran preferensi ke sewa. Harga sewa rumah tipe ≤54 naik 3% di Jakarta Selatan serta 2% di Jakarta Barat dan Jakarta Pusat . Tipe 55–120 di Jakarta Pusat naik 3%, sementara tipe ≥201 di Jakarta Barat naik 2%, menunjukkan kuatnya permintaan di pusat aktivitas ekonomi. - Kawasan Penyangga Jakarta: Kabupaten Bekasi menguat pada tipe 121–200 (+3%) dan ≥201 (+2%) seiring ekspansi industri. Kabupaten Bogor turun -2% di hampir semua tipe . Kota Depok turun -3% pada tipe ≤54 dan 55–120, namun tipe ≥201 naik 3%, sementara Kota Bogor naik 2% pada tipe ≤54. - Bandung Raya: Infrastruktur transportasi mendorong permintaan sewa. Tipe ≤54 naik 83 di Kota Bandung dan 2% di Kabupaten Bandung Barat di koridor akses kereta cepat Whoosh. Sebaliknya, Kabupaten Bandung turun -2% - Jawa Tengah & Jawa Timur: Di Kota Malang, tipe ≥201 turun -2% seiring fokus investasi ke sektor produktif. Sementara di Kabupaten Sleman , tipe ≤54 naik 3% dan ≥201 naik 2% , didorong peralihan dari beli ke sewa di wilayah Yogyakarta. - Bali: Pasar sewa Kota Denpasar mulai pulih setelah koreksi sebelumnya. Tipe ≤54 naik 2% dan tipe 121–200 naik 3% , mencerminkan normalisasi permintaan dari pekerja sektor jasa dan pariwisata.
Memasuki 2026, pasar properti nasional berpotensi memasuki fase ekspansif setelah periode konsolidasi sepanjang 2025. Fundamental ekonomi yang lebih kuat, ruang pelonggaran pembiayaan, kepastian insentif perumahan, dan pertumbuhan regional yang lebih merata menjadi faktor pendorong utama.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!