Papandayan, Dari Letusan Menuju Pesona Tak Pernah Padam
VISI.NEWS | GARUT - Gunung Papandayan di Garut memang punya kisah panjang yang penuh warna. Di balik keindahan alamnya yang memukau, gunung ini menyimpan jejak peristiwa besar yang pernah mengguncang bumi Priangan. Salah satu yang paling dikenang adalah erupsi pada tahun 2002, ketika letusan freatik mengguncang kawasan itu pada 11 November 2002 pukul 16.02. Hanya 38 menit kemudian, dinding utara Kawah Nangklak longsor, menambah kepanikan warga sekitar. Letusan freatik yang membawa campuran air panas, lumpur, dan gas beracun itu menjadi pengingat bahwa Papandayan masih aktif dan tak bisa diremehkan.
Akibat erupsi tersebut, lebih dari 3.000 warga dari lima desa harus mengungsi, meninggalkan rumah dan lahan pertanian mereka. Infrastruktur banyak yang rusak, dan kabut tebal menutupi wilayah Garut selama beberapa hari. Pemerintah menetapkan status siaga bagi Gunung Papandayan yang berlangsung hingga bertahun-tahun. Meski sempat menjadi ancaman, lambat laun masyarakat mulai berdamai dengan alam dan menjadikan Papandayan sebagai bagian dari kehidupan dan sumber penghidupan mereka.
Kini, dua dekade setelah peristiwa itu, Papandayan justru bangkit sebagai ikon wisata alam unggulan Kabupaten Garut. Panorama kawah yang dulu menakutkan kini menjadi daya tarik utama. Wisatawan datang bukan hanya untuk mendaki, tetapi juga untuk melihat langsung sisa-sisa letusan yang membentuk lanskap Papandayan yang unik. Uap panas yang mengepul di antara batuan belerang kini menjadi pemandangan menakjubkan, terutama saat matahari pagi menyinari lembah gunung.
Kebangkitan wisata Papandayan terlihat jelas saat libur panjang Tahun Baru Imlek dan Isra Mikraj 2025. Berdasarkan data Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Garut, total kunjungan wisatawan mencapai 74.070 pengunjung dari 28 objek wisata yang dipantau. Menariknya, kawasan TWA Gunung Papandayan di Kecamatan Cisurupan menjadi destinasi unggulan dengan 12.442 pengunjung selama liburan tersebut — menunjukkan bahwa pesona Papandayan belum surut, bahkan terus meningkat.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!