Out-of-Body Experience: Antara Spiritualitas dan Respon Psikologis
Editor
Desi Rossilawati
Sabtu, 14 Juni 2025 | 00:00 WIB
VISI.NEWS | BANDUNG - Pernah merasa seperti sedang melihat tubuh sendiri dari luar? Pengalaman ini dikenal sebagai out-of-body experience (OBE) atau pengalaman keluar dari tubuh. Meski terdengar supranatural, fenomena ini sebenarnya cukup umum dan kini mulai dipahami dari sudut pandang ilmiah.
Penelitian terkini dari University of Virginia School of Medicine menyebutkan bahwa OBE tidak selalu berkaitan dengan gangguan mental seperti yang selama ini diyakini. Justru, dalam banyak kasus, OBE bisa menjadi cara otak untuk menghadapi trauma psikologis atau tekanan emosional berat.
Dr. Marina Weiler, ahli saraf yang memimpin studi ini, menjelaskan bahwa banyak individu yang mengalami OBE memilih bungkam karena takut dianggap tidak waras. Padahal, menurutnya, pengalaman ini bisa menjadi mekanisme adaptif alami, bukan gangguan.
Menariknya, mayoritas partisipan dalam studi ini justru menganggap OBE sebagai sesuatu yang positif. Lebih dari 70% responden mengaku mendapatkan manfaat spiritual dan emosional dari pengalaman tersebut, dan sekitar 40% menyebut OBE sebagai salah satu momen paling berkesan dalam hidup mereka. Banyak yang merasa lebih damai, terbuka secara spiritual, bahkan lebih siap dalam menghadapi kematian.
Dalam riset tersebut, para peneliti mengumpulkan data dari lebih dari 500 orang dewasa melalui survei online. Hasil menunjukkan bahwa OBE paling sering dialami sejak usia anak-anak dan biasanya terjadi secara spontan, tanpa bantuan meditasi atau zat psikoaktif.
Meskipun terdapat keterkaitan antara OBE dan tingkat gangguan mental yang lebih tinggi, para peneliti tidak menyimpulkan OBE sebagai penyebabnya. Sebaliknya, mereka menyoroti trauma masa kecil sebagai faktor umum yang memicu kondisi tersebut. Ini menguatkan teori bahwa OBE bisa jadi adalah bentuk disosiasi, yakni upaya otak untuk melepaskan diri dari kenyataan yang terlalu menyakitkan.
Menurut Weiler, fokus seharusnya bukan pada pengalaman OBE itu sendiri, melainkan pada akar persoalannya, yaitu luka emosional yang belum tersembuhkan. Dengan pemahaman ini, pengalaman seperti OBE tidak seharusnya distigmatisasi, melainkan dikenali sebagai sinyal penting dalam proses pemulihan mental.
Temuan ini diharapkan dapat mengubah cara masyarakat dan tenaga profesional memandang fenomena psikologis seperti OBE. Sebagai langkah awal, menghapus stigma bisa mendorong lebih banyak orang mencari pertolongan, serta menciptakan pendekatan yang lebih manusiawi dan empatik dalam dunia kesehatan mental. @ffr
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!