Orang Rimba dalam Pusaran Perubahan Iklim

ED
Kamis, 10 Agustus 2023 | 04:44 WIB
Bagikan
Orang Rimba dalam Pusaran Perubahan Iklim

Perubahan iklim dapat memicu perkembangbiakan penyakit tular vektor karena berkaitan dengan suhu, kelembaban udara dan curah hujan. Vektor adalah hewan avertebrata yang menularkan agen penyakit. Perubahan iklim telah mempengaruhi siklus hidup nyamuk dan intensitas isapan nyamuk. Hal ini karena nyamuk adalah hewan ectothermic, yaitu suhu tubuhnya sangat tergantung dengan suhu lingkungan.

Peningkatan suhu akan mempercepat proses perkembangan larva nyamuk menjadi dewasa. Perubahan iklim juga akan mempercepat nyamuk betina dewasa untuk mencerna darah yang dihisap, sehingga intensitas penghisapan akan semakin tinggi. Hal ini berakibat ke peningkatan frekuensi penularan penyakit. “Ini juga yang terjadi dilingkungan tempat tinggal Orang Rimba, terutama pada Orang Rimba yang tinggal tidak lagi dalam kawasan hutan, yaitu di perkebunan kepala sawit dan hutan karet,” kata Mariya Fasilitator Kesehatan KKI Warsi.

Menurut data Kementrian Kesehatan, jenis-jenis nyamuk yang dapat dipengaruhi oleh perubahan iklim adalah Anopheles gambiae, A. funestus, A. darlingi, Culex quinquefasciatus, dan Aedes aegypti. Culex sp merupakan salah satu vektor penular filariasis dan termasuk nyamuk yang bersifat antropofilik (gemar menghisap darah manusia). Aktifitas menghisap dilakukan pada malam hari dan di luar rumah. “Dengan kondisi Orang Rimba yang tinggal tidak dalam rumah tertutup maka peluang untuk digigit nyamuk ini semakin terbuka dan pada akhirnya menimbulkan kerentanan pada suku ini. untuk itu, sangat penting adanya sejumlah langkah yang bisa dilakukan guna mengendalikan situasi ini,” kata Mariya.

Kelangkaan pangan Perubahan lingkungan dan kondisi cuaca yang tidak menentu juga turut mempengaruhi pasokan pangan Orang Rimba. Termasuk Orang Rimba yang masih tinggal di daerah yang berhutan. Sebagai contoh Orang Rimba yang tinggal di wilayah Sungai Terap, yang secara administratif masuk ke wilayah Desa Jelutih Kecamatan Bathin XXIV Kabupaten Batanghari Provinsi Jambi.

Tumenggung Nyenong menceritakan jika dahulu, madu adalah bahan pangan sekaligus sumber ekonomi Orang Rimba. Dulu setiap tahun, kala musim tamanam hutan berbunga, pohon-pohon sialang (pohon tempat lebah hinggap dan bersarang) dipenuhi oleh sarang-sarang lebah yang menyimpan madu yang dalam bahasa rimba di sebut babing. “Zaman tekelah bambing rapa yoya benyok pado sialong-sialong di dalam rimba. Namun kini la hopi lagi, la jerong sialong kini ado rapanye (pada waktu dulu banyak babing lebah di pohon sialang dalam rimba. Namun kini sudah jarang pohon sialang ada madunya),” kata Nyenong.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.