Nyeri Dada saat Aktivitas Ringan? Waspadai Angina Refrakter
Editor
Desi Rossilawati
Jumat, 4 Juli 2025 | 00:00 WIB
VISI.NEWS | BANDUNG - Nyeri dada yang muncul berulang, terutama saat beraktivitas, bisa menjadi gejala khas angina atau nyeri akibat gangguan aliran darah ke jantung. Dokter spesialis jantung pembuluh darah, dr. Ade Meidian Ambari, Sp.JP, Subsp. PRKV(K), PhD, menyebut kondisi ini sering terasa seperti ditekan beban berat di dada, menjalar ke lengan kiri, punggung, hingga ulu hati, dan disertai sensasi tercekik.
Jika nyeri dada terjadi terus-menerus selama tiga bulan atau lebih, meski pasien telah menjalani pengobatan optimal seperti obat jantung, pemasangan ring, atau operasi bypass, maka kondisi ini disebut angina refrakter.
“Kalau pasien sudah diberi obat, pasang ring, atau bypass tapi tetap nyeri dada selama tiga bulan, itu disebut angina refrakter,” ujar Ade dalam talkshow Instagram Kemenkes RI, Senin (30/6/2025).
Angina refrakter paling banyak terjadi pada pasien penyakit jantung koroner. Namun, usia muda juga berisiko, contohnya pasien termuda Ade yang berusia 24 tahun mengalami serangan jantung akibat merokok tiga bungkus sehari.
Faktor risiko yang perlu diwaspadai meliputi tekanan darah tinggi, diabetes tidak terkontrol, kolesterol LDL tinggi, kebiasaan merokok, dan riwayat keluarga dengan penyakit jantung.
Gejala angina refrakter biasanya berupa nyeri di tengah dada yang menjalar ke lengan kiri atau punggung, muncul saat aktivitas ringan, disertai keringat dingin, dan hilang timbul dalam periode tiga bulan.
Ade menyarankan pemeriksaan jantung rutin sejak usia 40 tahun, terutama jika memiliki faktor risiko. Pemeriksaan dapat berupa EKG, treadmill test, echocardiography, hingga CT scan koroner.
Bagi pasien angina refrakter yang tidak dapat menjalani pemasangan ring atau bypass, tersedia terapi External Counterpulsation (ECP), yaitu terapi non-invasif dengan manset di kaki yang mengembang dan mengempis mengikuti irama jantung untuk meningkatkan aliran darah.
“Efeknya mirip olahraga, tapi pasif. Cocok untuk pasien yang tidak kuat berolahraga karena nyeri dada,” jelas Ade.
Terapi ECP dilakukan 35 sesi selama tujuh minggu. Namun, sebelum terapi, pasien harus menjalani pemeriksaan lengkap untuk memastikan tidak ada kontraindikasi seperti kebocoran katup jantung atau trombosis.
Ade mengingatkan, deteksi dini dan kontrol faktor risiko penting untuk mencegah kondisi memburuk. Pasien dianjurkan menjaga pola makan sehat, berhenti merokok, mengontrol tekanan darah, serta rajin berkonsultasi ke dokter jantung. @ffr
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!