Nenek Anies Baswedan, Peserta Kongres Perempuan di Jogja 1928, Mereka Ditakuti Belanda, Ini Penyebabnya
“Para perempuan itu menuju ke depan lokomotif kereta yg sdh siap jalan. Mereka semua berbaring di atas rel kereta, berjejer para perempuan itu memaparkan badan. Dibawah terik matahari, depan moncong lokomotif mereka pasang badan, mereka tawarkan nyawa: berangkatkan kami atau matikan kami. Itulah harga mati yg senyatanya,” lanjutnya.
Tindakan tersebut membuat gentar orang Belanda, yang akhirnya tidak bisa menolak tentang keberangkatannya menuju Jogja.
Kongres tersebut memilki tujuan untuk ikut membangun pondasi perempuaun demi perjuangan agar terwujudnya kemerdekaan.
“Stasiun gempar. Belanda gentar. Akhirnya mereka diijinkan naik kereta. Berangkatlah mereka ke Jogja. Berkongres & ikut membangun pondasi perjuangan perempuan & perjuangan kemerdekaan,” sambungnya.
Menurut Anies, hal tersebut dituturkan Nenek Barkah pada dirinya dengan semangat berapi-api, tiap Hari Ibu diperingati.
“Semua itu dituturkan Nenek saat itu dgn penuh semangat. Tiap Hari Ibu diperingati, Beliau selalu teringat masa2 perjuangan itu,” ujarnya.
Nenek Barkah dikaruniai umur panjang hingga 93 tahun, meski di masa tuanya harus duduk di atas kursi roda tetapi tetap mengikuti perkembangan jaman, tidak berenti menggali informasi dari koran yang dibacanya tiap hari serta diskusi dengan siapapun yang mengunjunginya.
“Nenek dikarunia umur panjang. Meski di masa tuanya hrs duduk di kursi roda, Nenek ttp baca koran tiap hari, mengikuti perkembangan & tetap ajak diskusi siapapun yg berkunjung hingga menjelang wafat di usia 93 tahun. Badannya memang tlh menua tp pikiran & semangatnya sll muda,” tambahnya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!