Nasib Masa Depan Batik Tulis Klasik Tergantung "Orang Berduit". Ini Penyebabnya
VISINEWS/ SOLO - Nasib kain batik tulis klasik yang diproses secara tradisional di masa depan, tinggal tergantung orang-orang berduit yang mengenal karya seni warisan leluhur tersebut. Tanpa kepedulian mereka, karya seni batik tulis klasik akan punah tertelan zaman
Managing Director PT Danar Hadi, Diana Santosa, mengungkapkan hal itu di sela Festival Danar Hadi peringatan Hari Batik Nasional, dengan tema "Cerita Batikku"di House of Danar Hadi Dalem Wuryaningratan, Sabtu (1/10/2022), menanggapi VISINEWS tentang masa depan batik klasik akibat semakin langkanya perajin batik tulis bermotif klasik.
Menurut putri pemilik Batik Danar Hadi, almarhum Santosa Doellah tersebut, sebenarnya saat ini terjadi regenerasi di kalangan perajin batik tulis. Namun, para pembatik generasi baru sekarang ini berbeda dengan para perajin tradisional generasi tua.
"Perajin batik sekarang membatik sebagai pekerja yang digaji dengan standar upah berdasarkan UMR. Akibatnya, untuk memproduksi selembar kain batik dengan motif klasik secara tradisional, biayanya sangat mahal karena ada pembatik . Harga sehelai kain batik klasik sekarang bisa Rp 10 juta. Sehingga yang bisa membeli hanya orang berduit," katanya.
Diana Santosa menyatakan, memproduksi kain batik dengan motif klasik dengan pengerjaan tradisional biayanya sangat mahal. Ongkos tenaga perajin batik lebih tinggi dibanding tenaga kerja di sektor industri lainnya.
"Peminat para perajin untuk membatik sebenarnya masih ada. Tetapi pangsa pasar kain batik motif klasik makin sempit, karena harganya mahal. Harga sepasang kain batik klasik yang disebut sarimbit, bisa mencapai Rp 10 juta," jelasnya.
Dalam berupaya menekan harga kain batik motif klasik, sambung Diana, pihaknya menyiasati dengan mengombinasikan proses pembuatannya, dengan menggabungkan proses printing dengan nyanting sehingga harga jual lebih murah dibanding proses tradisional.
Menyinggung pasar batik sebagai bahan busana sehari-hari, Managing Director Danar Hadi itu menyebutkan, batik sudah menjadi bagian gaya hidup kalangan anak muda. Melihat ceruk pasar tersebut, katanya, diperlukan upaya regenerasi market ke kalangan generasi muda.
"Kita berpikir tidak hanya menjual batik hanya untuk orang-orang dewasa, tetapi juga anak muda dan kanak-kanak. Di Hari Batik Nasional kita mengundang anak-anak untuk mengenalkan batik melalui Cerita Batikku," ujarnya lagi.
Dalam kegiatan"Cerita Batikku", lanjutnya, Danar Hadi juga mengundang 7 keluarga muda, termasuk keluarga Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka, sebagai keluarga inspirasi dengan busana batik.
"Harapan kami, keluarga muda tersebut bisa menginspirasi agar batik menjadi keseharian sehingga tidak dipandang aneh," tandasnya. @tok
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!