MUI: Masjid Boleh Bicara Politik, Tapi Tidak Boleh Dukung Mendukung
“Karena kita memang membutuhkan politik. Amar maruf nahi mungkar, itu politik. Itu tugas kita,” paparnya.
Kiai Cholil mengingatkan, tindakan dukung mendukung di dalam masjid berpotensi memunculkan firkah-firkah atau kelompok-kelompok.
Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah ini mengungkapkan, ketika itu Rasulullah saw. melihat orang berjualan di dalam masjid.
Kemudian, Rasulullah saw. berdoa agar orang tersebut tidak beruntung.
“Apa berbisnis itu jelek? Tidak. Tapi di masjid tidak untuk berbisnis,” jelasnya.
“Ini baru kita menjalankan fungsi masjid dalam peradaban. Jadi nilai-nilai kemanusiaan disampaikan, politik yang baik disampaikan, tetapi jangan (serukan dalam masjid) pilih yang A dan pilih yang B,” tegasnya.
Kiai Cholil mencontohkan tentang Al Quran yang diyakini umat Islam sangat baik tetapi tidak boleh dibawa ke kamar mandi. Begitu juga dengan berpolitik yang baik, tetapi tidak boleh masuk ke dalam masjid.
“Diluar (masjid) silahkan dilakukan karena itu hak. Masjid (harus) dijadikan sebagai pusat kebangkitan umat, bagaimana kita ini bisa membagikan inspirasi, fondasi dan nilai-nilai dibangun dari masjid,” paparnya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!