Minneapolis Terhenti Usai Penembakan Ibu oleh Agen ICE, Ketakutan dan Protes Meluas
Pernyataan dari pemerintah pusat tersebut menuai penolakan keras dari pejabat lokal Minnesota. Gubernur Tim Walz mendesak agar penyelidikan dilakukan secara independen dan melibatkan negara bagian. Ia memperingatkan bahwa jika penyelidikan hanya dilakukan secara internal oleh federal, maka Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem secara praktis akan menjadi hakim, juri, sekaligus algojo. Walz bahkan menyebut partisipasi warga dalam demonstrasi sebagai bentuk tanggung jawab patriotik, yang kemudian ikut mendorong eskalasi aksi protes di Minneapolis.
Di tengah panasnya tensi politik, keluarga korban membantah tudingan bahwa Renee Nicole Good terlibat dalam aktivitas politik anti-ICE. Ibu korban, Donna Ganger, menyebut putrinya kemungkinan besar bertindak karena rasa takut. “Putri saya mungkin hanya ketakutan. Ia bukan bagian dari gerakan tersebut,” ujar Ganger kepada Minnesota Star Tribune. Renee dikenal sebagai seorang penyair yang menempuh pendidikan penulisan kreatif di Old Dominion University. Ia meninggalkan seorang suami dan seorang anak berusia enam tahun. Hingga kini, donasi daring untuk membantu keluarganya telah melampaui 800.000 dolar AS.
Dampak penembakan tersebut juga dirasakan oleh warga imigran dan warga keturunan asing yang telah menjadi warga negara AS. Abdinasir Abdullahi (38), warga keturunan Ethiopia, mengaku kini selalu membawa paspor ke mana pun ia pergi karena takut berhadapan dengan petugas ICE. “Mereka tidak percaya kalau saya bilang saya ini warga negara. Mereka tidak mau memercayai Anda,” tuturnya.
Di lokasi penembakan, warga mendirikan tugu peringatan darurat berupa lilin dan bunga. Sebuah spanduk bertuliskan, “Kebencian tidak membuat kita hebat,” terbentang di dekat lokasi kejadian, menjadi simbol duka sekaligus kritik terhadap kekerasan aparat. Insiden ini pun menjadi titik kritis baru di tengah kebijakan deportasi massal pemerintahan Trump, memperlebar jurang ketegangan antara pemerintah federal, otoritas lokal, dan masyarakat sipil di Amerika Serikat. @kanaya
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!