Merah Putih, Warisan Agung dari Kerajaan Majapahit hingga Kemerdekaan Indonesia

ED
Jumat, 9 Agustus 2024 | 07:00 WIB
Bagikan
Merah Putih, Warisan Agung dari Kerajaan Majapahit hingga Kemerdekaan Indonesia

VISI.NEWS | BANDUNG - Sejarah Nusantara menyimpan berbagai kisah tentang kebesaran, perjuangan, dan kebijaksanaan leluhur bangsa Indonesia. Salah satu simbol yang tak lekang oleh waktu adalah bendera Merah Putih, yang ternyata memiliki akar mendalam jauh sebelum Indonesia merdeka. Warna yang kini menjadi lambang negara ini sejatinya telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Nusantara sejak era Kerajaan Majapahit, sebagaimana tercatat dalam Prasasti Gunung Buthak.

**Merah Putih dan Majapahit: Simbol Kebesaran Kerajaan**

Kerajaan Majapahit, yang dikenal sebagai salah satu kerajaan terbesar di Nusantara, menggunakan bendera merah putih yang dikenal dengan nama Sang Panji Gulo Klopo. Warna-warna ini tidak hanya mencerminkan kekuatan dan kejayaan kerajaan, tetapi juga melambangkan nilai-nilai budaya yang luhur serta semangat persatuan di antara rakyatnya.

Setelah Islam mulai berkembang dan kerajaan-kerajaan Islam berdiri di Nusantara, tradisi dan simbol-simbol lama tidak serta-merta ditinggalkan. Sebaliknya, mereka diadopsi dan diselaraskan dengan nilai-nilai baru yang dibawa oleh agama Islam. Kerajaan-kerajaan ini, yang berada dalam satu barisan dengan Dinasti Turki Utsmani, juga mengusung warna merah putih dalam bendera mereka, memperkuat kesatuan umat Islam di wilayah tersebut.

**Pangeran Diponegoro dan Perlawanan dengan Simbol Merah Putih**

Ketika kolonialisme Belanda menancapkan kukunya di Nusantara, warna merah putih kembali muncul sebagai simbol perlawanan. Pangeran Diponegoro, salah satu pahlawan nasional terbesar, menggunakan bendera merah putih dalam perjuangannya melawan penjajahan Belanda pada tahun 1825-1830. Bendera ini bukan hanya lambang kebesaran Majapahit, tetapi juga representasi dari nilai-nilai keadilan dan kebebasan yang diperjuangkan oleh Diponegoro dan pengikutnya.

Namun, perjuangan melawan Belanda tidak berjalan mudah. Diponegoro, menyadari potensi kehancuran total Jawa jika perang diteruskan, akhirnya memilih berdamai, sebuah langkah yang dilihat sebagai persiapan untuk perjuangan yang lebih besar di masa depan. Meskipun demikian, semangat perlawanan tidak pernah padam, dan simbol merah putih tetap dijaga oleh masyarakat Jawa dengan berbagai cara.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.