Mengenang Kisah Perjuangan RA Kartini
Meski Kartini menjadi salah satu perempuan yang beruntung mendapatkan pendidikan karena ayahnya merupakan Bupati Jepara Raden Mas Sosroningrat, ibunya bukan keturunan darah biru, sehingga tidak menerima privilese bangsawan.
Sejak kecil, Kartini menyaksikan sang ibu, Ngasirah, yang tidak berhak tinggal di rumah utama bupati, tetapi tinggal di bagian belakang pendapa, karena hanya berstatus sebagai istri selir (garwa ampil).
Ngasirah memang berstatus sebagai istri pertama. Namun, istri kedua RM Sosroningrat, yakni Woerjan, yang menjadi istri utama karena seorang keturunan raja Madura.
Tidak hanya itu, Ngasirah harus memanggil anak-anaknya sendiri dengan sebutan 'ndoro', yang berarti majikan.
Adapun putra-putri Ngasirah diharuskan memanggilnya dengan sebutan 'yu', atau panggilan untuk perempuan abdi dalem.
Kendati demikian, Kartini menolak memanggil ibunya, 'y'", dan lebih sering memilih tinggal dengan sang ibu.
Di usia remaja, Kartini harus mengikuti tradisi masa itu, yaitu diharuskan tinggal di rumah atau dipingit, artinya ia tidak diperbolehkan keluar rumah dan melakukan aktivitas lain sampai menikah.
Selama dipingit, Kartini tetap membaca buku, koran, dan majalah, serta bertukar surat dengan temannya di Belanda.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!