Mengenal Riset Biomolekuler Dengan Small Angle Scattering di BRIN
VISI.NEWS | SERPONG - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memiliki beberapa fasilitas hamburan neutron, salah satu diantaranya adalah peralatan hamburan neutron sudut kecil atau Small Angle Neutron Scattering. Fasilitas ini berada di Kawasan Nuklir Serpong, digunakan untuk melakukan berbagai penelitian, diantaranya dalam bidang Biologi Molekuler. Small Angle Neutron Scattering mampu mengamati makromolekul struktural dalam larutan.
Untuk mengenalkan manfaat fasilitas ini kepada para peneliti, dosen, dan mahasiswa, BRIN melalui Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) menggelar kegiatan webinar Small Angle Scattering (SAS)School dengan tema “Structural and Biophysical Methods for Biological Macromoleculers in Solution“. Melalui kegiatan yang diselenggarakan selama 5 hari sejak Senin (07/03), peserta akan mengenal pemanfaatan metode SAS untuk mempelajari makromolekul biologis dalam larutan.
Plt. Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Edy Giri Rachman Putra dalam sambutannya mengatakan, pentingnya melakukan penelitian mengenai Ilmu biologi struktur. “Mengapa? Karena kita memiliki banyak kesempatan dan juga fasilitas yang memadai untuk melakukan penelitian biologi struktur,” kata Edy Giri.
Edy Giri juga merasa senang dan berterimakasih dengan kehadiran Dimitri Svergun dari European Molecular Biology laboratory (EMBL) sebagai narasumber serta keikutsertaan para generasi muda yang berkutat di bidang biologi molekular. “Saya berharap suatu hari nanti generasi muda kami, talenta muda kami, bisa bergabung menempuh pendidikan doktoral ataupun pascadoktoral ditempat kalian, di Hamburg, Jerman,” ujar Edy Giri.
Edi berharap kolaborasi antara BRIN dan EMBL akan terus meningkat kedepannya, terutama dalam hal pendidikan. “Saya yakin kerjasama antara Indonesia dan Jerman akan terus meningkat di masa depan,” lanjutnya.
Dalam kesempatan ini Dimitri Svergun menjelaskan tentang teknik SAS serta kegunaannya dalam penelitian makromolekul biologi. Dicontohkan oleh dia bahwa Biontech, perusahaan vaksin pfizer, menggunakan teknik SAS untuk meneliti enkapsulasi RNA agar dapat stabil hingga sampai target sel dalam tubuh. Sehingga pembentukan antibodi dapat berhasil dengan baik. SAS juga digunakan untuk meneliti interaksi antara protein spike dari virus SARS Cov 2 dengan suatu molekul inhibitor sehingga dapat menghambat infeksi virus ke tubuh.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!