Mengenal KH Muhammad Ishaq, Ulama Pejuang dari Garut
VISI.NEWS | GARUT - Saat KH Aceng Umar bin KH Aceng Muhammad Ishaq bin KH Muhammad Umar Bashri Al-Fauzani meninggal dalam usia 81 tahun pada Selasa, 24 September 2019/24 Muharram 1441 H lalu di kediamannya, Kp. Kaum 01/10 Kelurahan Paminggir Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Jawa Barat begitu banyak warga Garut yang merasa berduka.
Saat kabar tersebut beredar, suasana duka menyelimuti warga Garut. Mereka dilanda kesedihan dan duka yang amat mendalam, khususnya bagi warga nahdlatul ulama (NU) dan Pondok Pesantren Fauzan 1-8 atas meninggalnya sesepuh Pondok Pesantren Bidayatul Faizin Fauzan 5 KH Aceng Umar Ishaq. Kiai Aceng merupakan putra pertama dari KH Muhammad Ishaq juga kakak sepupu dari Mustasyar PCNU Garut yakni KH Aceng Mimar Hidayat dan KH Aceng Aam Umar Alam yang merupakan Pengasuh Pesantren Hidayatul Faizin (Urug) dan Pesantren Fauzan.
Siapa KH Muhammad Ishaq, orang tua dari Kiai Aceng?
KH Aceng Muhammad Ishaq yang lebih dikenal dengan Ajengan Anom Fauzan atau Aceng Sasa merupakan putra sulung dari Syaikhul Masyaikh Asy Syekh KH. Aceng Muhammad Umar Bashri bin KH. Muhammad Adzro'i bin KH. Abdul Wahab bin KH. Muhammad Arif bin Mbah Nuryayi.
Beliau lahir pada tahun 1918 M tanpa diketahui tanggal dan bulannya. Pada tahun yang sama, kakeknya KH Muhammad Adzro'i yang merupakan murid dari Syekh Ibrohim Al Bajuri pengarang kitab Masalah fil Aqoid al Bajuri atau lebih dikenal dengan kitab Tijan ad Daruri wafat pada usia 73 tahun.
Masa Pengembaraan Pendidikan di Pesantren Aceng Sasa mengenyam pendidikan agama pertama kali dari ayahnya sendiri yang juga memberi nama pesantren Pasirbokor menjadi Pesantren Fauzan, yakni KH. Aceng Muhammad Umar Bashri atau dikenal dengan nama Syaikhuna Fauzan. A
Namun diusia yang masih sangat muda ketika dirinya berusia 14 tahun, KH Muhammad Umar Bashri Wafat, sehingga sesepuh pesantren Fauzan dipegang oleh KH Haitami. KH Haitami sendiri merupakan paman Aceng Sasa adik dari ibunya, Hj Fatmah binti KH Ahmad Hijazi.
Pada usia yang masih muda tersebut, Aceng Sasa menemukan kitab yang memuat ilmu nahwu yang belum selesai dikarang oleh Syaikhuna Fauzan, Aceng Sasa melanjutkan kitab yang belum sempat diselesaikan oleh ayahnya tersebut sampai selesai.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!