Mengenal KH Muhammad Ishaq, Ulama Pejuang dari Garut
Sebagai putra dari seorang kiai, dia pun memiliki semangat yang sangat besar dalam mencari ilmu. Sehingga Ia melanjutkan pengembaraan ilmu ke beberapa pesantren, diantaranya ke Pondok Pesantren Galumpit, kemudian melanjutkan Pendidikan kepada KH. Ahmad Syatibi atau dikenal dengan Mama Gentur – Cianjur.
Setelah selesai dari Gentur, Aceng Sasa melanjutkan pengembaraan ilmunya ke Pesantren Pajaten, Sirnarasa-Cirebon asuhan KH Hasan Hariri putra dari KH Muhammad Zen. Pada usia 18 tahun, Aceng Sasa tidak langsung memimpin pesantren. Namun dalam dua tahun sebelum memimpin pesantren, Aceng Sasa sering melakukan kunjungan ke kampung-kampung khususnya masyarakat sekitar untuk merangkul mereka, khususnya masyarakat yang masih sering melakukan kemaksiatan, sehingga dirinya terkenal dekat dengan para preman dan jawara.
Saat ia memimpin pesantren, putra dari masyarakat yang sering dikunjungi oleh Aceng Sasa tersebut dipondokkan di Pesantren Fauzan. Aceng Sasa memiliki dua istri, istri pertamanya yang bernama Hj Jubaedah binti KH Harmaen memiliki dua putra, yakni KH Aceng Umar Ishaq dan Nyimas Jojoh. Sedangkan dari keduanya yang Bernama Hj Asiah dikaruniai putri bernama Nyimas Kokoy.
Aceng Sasa merupakan tokoh ulama yang sangat disegani dan dihormati oleh semua kalangan masyarakat, terutama para jawara yang ada di Garut, karena Aceng Sasa merupakan ulama sekaligus juga pendekar silat di tatar Sunda khususnya di daerah Garut. Selain itu, Aceng Sasa juga merupakan diplomat yang ulung, dimana saat masa penjajahan Belanda, Aceng Sasa banyak melakukan advokasi untuk kepentingan masyarakat, di sisi lain ia menggagalkan beberapa penyerangan yang hendak dilakukan oleh Belanda oleh pasukannya tanpa diketahui oleh Belanda.
Kemudian pada masa penjajahan Jepang, ia kembali melakukan advokasi kepada pemerintahan Jepang agar tidak mengganggu kegiatan di pesantren. Sampai ada dua prajurit Jepang yang masuk islam dan menjadi santri Fauzan. Bahkan kedua prajurit Jepang tersebut menjadi warga Negara Indonesia dan mereka tinggal di Bandung sampai wafat.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!