Mengenal KH Muhammad Ishaq, Ulama Pejuang dari Garut
Perjuangan Pasca Kemerdekaan Indonesia
Sejak Indonesia Merdeka pada 17 Agustus 1945, kondisi Indonesia belum stabil karena banyaknya para pemberontak yang menjadi antek-antek Belanda. Sebagai pejuang kemerdekaan, ia mendirikan Perkumpulan Daf'oesial pada 5 Januari 1946 untuk menjaga kemerdekaan Indonesia.
Berdasarkan dokumen Dewan Pertimbangan Agoeng (DPA) yang ditulis oleh ketua DPA R.A.A Wiranatakusuma yang ditulis pada 5 September 1946, jumlah anggota Daf'oesial pada saat itu mencapai 130.000 Orang. Untuk mendapatkan legalitas atau pengakuan Daf'oesial dari pemerintah Indonesia yang belum lama berdiri. Aceng Sasa dan 20 santrinya berangkat pada tanggal 18 Agustus 1946 untuk menemui Paduka Jang Moelia (PJM) Presiden Ir. Soekarno yang ketika itu sedang berada di Yogyakarta.
Beliau berangkat kesana dengan alasan untuk meminta pengesahan organisasi yang dibentuknya sebagai legal formal dalam menjalankan roda organisasi di Negara Kesatuan Republik Indonesia, terutama ikut andil dalam menjaga keutuhan NKRI.
Ketika Aceng Sasa mendiskusikan banyak hal dengan Bung Karno, Aceng Sasa diminta untuk menjadi Imam Besar (Menteri pertahanan) bagi seluruh Prajurit atau Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada masa itu. Namun Aceng Sasa tidak menerima tawaran tersebut dan lebih memilih untuk tetap mendidik santri dan mengayomi masyarakat di Pesantren Fauzan.
Karena kepercayaan Bung Karno tersebut, sepulang dari Yogyakarta, satu kompi tentara dititipkan kepada Aceng Sasa untuk dididik di Pesantren Fauzan. Dimana pada siang hari mereka ikut ngaji, dan malam harinya mereka bergerilya menyerang pasukan para pemberontak.
Sebelum ada NU masuk ke Garut, Aceng Sasa pernah masuk kedalam Majelis Syuriah Muslim Indonesia (Masyumi), namun ketika mencium banyaknya pengurus yang bertentangan dengan haluan islam Ahlussunnah Waljama'ah, hal tersebut menjadikan alasan dirinya keluar dari Masyumi.
Mengingat hasil perundingan Renville, Wilayah Indonesia yang diakui Belanda hanya Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Sumatera. Akibat kondisi tersebut, Aceng Sasa dan Pasukan Daf'oesial pergi ke Jawa Tengah karena belanda meminta pemerintah Indonesia menarik mundur tentara yang ada di Jawa Barat dan Jawa Timur.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!