Memahami Anak Muda Melalui Aspek Pop Culture hingga Isu Kesehatan Mental

ED
Kamis, 30 November 2023 | 10:27 WIB
Bagikan
Memahami Anak Muda Melalui Aspek Pop Culture hingga Isu Kesehatan Mental

Ekonomi Digital dan Kewaspadaan Sebesar 18% dari semua responden menunjukkan partisipasi yang sering terhadap kegiatan yang berkaitan dengan tren ekonomi digital, lalu 37% untuk sesekali, dan 45% tidak pernah.

Generasi muda yang melekat akan interaksi digital ternyata menunjukkan kekhawatiran terhadap risiko dalam tren ekonomi digital saat ini.

Khususnya pada kelompok responden laki-laki usia 25-29 tahun (35%) yang khawatir akan ancaman hilangnya peluang kerja yang timbul akibat perubahan yang cepat dalam ekonomi dan teknologi.

Kelestarian Lingkungan Perempuan dengan Status Ekonomi Sosial (SES) yang lebih tinggi memiliki sikap deklaratif yang kuat terhadap lingkungan dengan 70% nilai rata-rata dalam hal pengetahuan dan minat, 65% aktif dalam kegiatan lingkungan dan 75% mendukung bisnis hijau. Selain itu, perempuan kelas menengah juga menunjukkan 60% aktif dalam kegiatan lingkungan dan 70% mendukung bisnis hijau.

Dari segi praktik berkelanjutan menunjukkan seperti konservasi energi (55% untuk perempuan, 48% untuk laki-laki); kendaraan listrik (40% untuk perempuan, 35% untuk laki-laki); green investment (32% untuk perempuan, 26% untuk laki-laki); dan transisi energi (33% untuk perempuan, 25% untuk laki-laki).

Anak Muda dan Isu Kesehatan Mental Dari semua usia dan gender menunjukkan partisipasi yang tinggi terhadap gerakan kesehatan mental, mulai dari usia 15-19 tahun (73%), usia 20-24 tahun (72%), usia 25-29 tahun (76%), dan usia 30-35 tahun (79%).

Selain itu, 86% dari semua responden menunjukkan bahwa media sosial sebagai saluran utama dalam mengakses informasi mengenai kesehatan mental.

“Mayoritas responden di usia muda ini sudah aware tentang pentingnya aspek kesehatan mental dalam kehidupan sehari-hari. Mereka tidak merasa malu lagi untuk mengakui bahwa dirinya memiliki masalah mental, dan mulai berinisiatif untuk mencari solusinya, baik yang berbentuk self-therapy ataupun melalui psikolog atau psikiater. Indikasi ini bisa dilihat juga dari tumbuhnya platform, web, atau aplikasi yang memberikan pelayanan kesehatan mental,” jelas Aska.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.