Masukan untuk KPU agar Sosialisasi dan Pendidikan Pemilih Gunakan Kearifan Lokal
"Fasilitasi kegiatan, lomba menulis aspirasi, lomba meme ajakan memilih, cerdas cermat, bentuk jejaring komunitas atau manfaatkan yang sudah ada, ajak kawal Pemilu, dll," ucap Uni.
Diskusi dilanjutkan dengan pemaparan dari Senior Analis Drone Emprit, Yan Kurniawan yang memaparkan peta social network analysis atau sebaran media terkait isu Pemilu 2024.
Data per 1 Agustus Drone Emprit, kata Yan, menemukan isu terkait pemilu yang banyak diperbincangkan terkait tahapan pendaftaran partai politik calon peserta pemilu.
Sebaran media terakit isu pemilu pun paling banyak berasal dari media daring republika.co.id, diikuti liputan6.com, dan nasional.kompas.com.
Dalam peta social network terkait Pemilu 2024, Yan mengakui bahwa KPU Pusat cukup sukses membangun komunitas dalam penguatan jaringan percakapan di media sosial. Meski cukup sukses, Yan memberikan masukan agar satker KPU se-Indonesia membuat konten sosialisasi dengan memperhatikan kearifan lokal dan juga memanfaatkan media sosial Twitter sebagai basis komunikasi.
"Penguatan jaringan percakapan agar narasi KPU terus tersosialisasikan lebih luas. Misalkan gini konten sosialisasi kita retweet kita bangun mulai pakai bahasa kita, bahasa daerah, colek tuh influencer lokal, bangun mana pro dan kontra. Kalau sudah ramai baru kita kasih penjelasan," ujar Yan.
Yan berharap akun satker KPU di daerah dapat memiliki cluster jaringan percakapan sendiri di wilayahnya terkait isu Pemilu.
Tak hanya itu, Yan menyarankan agar KPU memperkaya kontennya baik dengan menerapkan model komunikasi Lasswell dengan menerapkan dari sisi Who (siapa yang bicara), say what (jenis konten), in which channel (TikTok, Instagram, Twitter, WhatsApp), to whom (segmentasi publik), with what effect (harapan edukasi dan sosialisasi yang ingin dicapai).
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!