Maria Ulfah: Hari Ibu Bukan Sekadar Seremonial
Kesamaan isu lintas zaman tersebut, lanjut Maria, menandakan bahwa akar patriarki masih mengakar kuat dalam kehidupan sosial. Patriarki membangun konstruksi yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kuasa di ruang publik, sementara perempuan dibatasi perannya di ranah domestik.
“Yang menganggap bahwa laki-laki itu lebih penting, punya kuasa, urusannya adalah urusan publik, sementara perempuan urusannya adalah urusan domestik,” jelasnya.
Maria juga menyoroti masih tingginya angka kekerasan terhadap perempuan, termasuk kekerasan dalam rumah tangga. Padahal, perempuan saat ini telah memiliki akses pendidikan yang lebih baik dan peran signifikan di dunia kerja, namun sering kali kembali dibebani konstruksi domestik setelah menikah.
Ia menegaskan pentingnya refleksi kolektif agar bangsa ini tidak mengingkari sejarahnya sendiri dalam memperingati Hari Ibu. Menurutnya, semangat 22 Desember harus dikembalikan pada cita-cita perjuangan perempuan untuk kesetaraan dan keadilan sosial.
“Harapannya, peringatan tanggal 22 Desember dikembalikan semangat dan ideologinya pada Kongres Perempuan Indonesia tahun 1928, sebagai momentum mendorong kesetaraan perempuan dan laki-laki dalam politik serta kebijakan publik,” pungkas Maria.
@uli
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!