Maag atau GERD? Simak Penjelasan Dokter tentang Perbedaan dan Penanganannya
VISI.NEWS | BANDUNG - Saat mengalami sejumlah gejala, orang mengira itu merupakan maag. Padahal sesungguhnya sudah mengarah pada GERD. Sebaiknya kenali beda maag dan GERD agar tepat penanganannya.
Keluhan nyeri ulu hati, perut terasa penuh, hingga sensasi terbakar di dada sering kali dianggap sebagai gejala maag. Padahal, menurut para ahli, keluhan ini juga bisa menjadi tanda dari GERD atau gastroesophageal reflux disease.
Keduanya sering disalah artikan sebagai satu penyakit yang sama, padahal penyebab dan penanganannya berbeda.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Rumah Sakit Pondok Indah - Puri Indah, Imelda Maria Loho, menjelaskan bahwa maag atau yang dikenal dalam istilah medis sebagai dispepsia merupakan sekumpulan gejala gangguan pencernaan yang terjadi di saluran cerna bagian atas.
Gejala yang sering muncul antara lain nyeri atau panas di ulu hati, mual, muntah, perut terasa penuh, serta cepat kenyang meski makan hanya sedikit. "Maag ini umumnya disebabkan oleh iritasi di lambung karena pola makan yang tidak teratur, stres berlebihan, atau konsumsi makanan dan minuman tertentu seperti yang terlalu pedas, asam, dan berlemak," kata Imelda dikutip dalam keterangannya, Senin (23/6/2025). Sementara itu, GERD adalah kondisi ketika asam lambung naik ke kerongkongan dan menyebabkan iritasi. Gejala yang ditimbulkan antara lain rasa terbakar di dada (heartburn), rasa pahit atau asam di mulut, nyeri dada, hingga sensasi mengganjal di tenggorokan. GERD biasanya terjadi secara kronis dan dapat memburuk bila tidak ditangani dengan baik. Imelda menyebut GERD terjadi akibat otot katup di bagian bawah kerongkongan atau lower esophageal sphincter (LES) melemah. Dalam kondisi normal, katup ini berfungsi mencegah isi lambung naik kembali ke kerongkongan.
Akan tetapi, saat fungsinya melemah, asam lambung bisa dengan mudah mengalir ke atas dan menyebabkan iritasi.
"Kalau asam lambung naik lebih dari dua kali dalam seminggu, itu sudah bisa dikategorikan sebagai GERD," kata dia. Faktor risiko GERD cukup beragam, mulai dari obesitas, kehamilan, usia lanjut, hingga kebiasaan tidur atau berbaring segera setelah makan. Selain itu, konsumsi obat-obatan tertentu, kondisi medis seperti gastroparesis, hernia hiatus, serta riwayat operasi di area perut juga dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami GERD.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!