Maag atau GERD? Simak Penjelasan Dokter tentang Perbedaan dan Penanganannya
Baik maag maupun GERD umumnya dipicu oleh gaya hidup yang tidak sehat. Pola makan yang tidak teratur, konsumsi makanan tinggi lemak dan garam, serta kebiasaan merokok yang bisa semakin memperparah kondisi tersebut. Kemudian faktor stres, penggunaan obat pereda nyeri secara berlebihan, dan kondisi medis tertentu seperti penyakit autoimun, HIV/AIDS, Crohn, gangguan ginjal, hingga penyakit liver juga bisa memengaruhi kesehatan saluran cerna. Untuk mencegah kekambuhan atau memperparah gejala, Imelda menyarankan agar masyarakat mulai menerapkan pola makan yang teratur. Ia juga menekankan pentingnya pengelolaan stres, menghindari makanan pemicu seperti makanan pedas dan asam, serta tidak langsung berbaring setelah makan.
"Usahakan ada jeda sekitar 4-6 jam antara waktu makan. Kalau merasa lapar di antaranya, bisa konsumsi camilan sehat. Yang tak kalah penting, hindari kopi berlebihan dan atur stres dengan baik," jelasnya. Meski terkesan ringan, keluhan lambung yang berlangsung terus-menerus sebaiknya tidak diabaikan. Jika gejala tidak membaik dalam beberapa hari, disertai muntah darah, penurunan berat badan yang signifikan, atau nyeri dada hebat, segera berkonsultasi dengan dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut. "Penanganan yang tepat akan sangat bergantung pada diagnosis yang akurat. Makanya, mengenali perbedaan antara maag dan GERD menjadi langkah awal penting agar tidak salah dalam mengambil tindakan medis," kata Imelda. @desi
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!