Lezatnya Coklat Desa Putat Bisa Mendekati Belgia, Ini yang Dilakukan Petani

ED
Minggu, 24 Juli 2022 | 11:13 WIB
Bagikan
Lezatnya Coklat Desa Putat Bisa Mendekati Belgia, Ini yang Dilakukan Petani

VISI.NEWS | SOLO - Popularitas Indonesia sebagai salah satu di antara negara penghasil kakao, tidak bisa seperti Swiss, Belgia atau Italia yang hasil olahan coklatnya dikenal sebagai coklat terlezat di dunia.

Padahal, di Indonesia terdapat banyak perkebunan kakao yang terhampar di berbagai daerah, dengan ciri khas citarasa yang berbeda-beda di setiap daerah. Bahkan, di antara biji kakao berkualitas tinggi yang merupakan bahan baku utama pembuatan coklat yang diproduksi di Swiss, Belgia dan Italia ada yang berasal dari Indonesia.

Dr. Dimas Rahadian Aji Muhammad, salah seorang peneliti kakao yang sehari-hari merupakan dosen Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (FP-UNS) Solo, menguak problematik yang dihadapi para petani kakao sambil melakukan pembinaan teknis budidaya kakao di Desa Putat, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), agar menghasilkan biji kakao berkualitas prima.

Desa Putat, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, merupakan salah satu daerah di Tanah Air penghasil kakao dari lahan seluas 11 hektar dengan populasi tanaman 10.000 batang pohon kakao, yang dikelola "Kelompok Tani Sidodadi" pimpinan Edy Suparjono.

Sebelum Dr. Dimas Rahadian Aji Muhammad, bersama tim pengabdian masyarakat Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNS, yaitu Guzti Fauza, PhD, dan Dian R. Affandi, STP, MP, masuk ke Desa Putat, para petani kakao menjual sebagian besar hasil panennya dalam bentuk biji kakao kering non-fermentasi atau terfermentasi dengan nilai tambah produk yang relatif kecil.

"Pada tahun 2019, para pemuda Desa Putat mendirikan unit usaha start-up pengolahan kakao, dengan nama UKM Semesta Rasa, yang dipimpin Panggih Triatmoko. Unit usaha itu untuk meningkatkan nilai tambah produk kakao yang dihasilkan di desanya," ujar Dr. Dimas kepada wartawan di LPPM, Sabtu (23/7/2022).

Peneliti kakao yang meraih gelar doktor dengan disertasi tentang seluk-beluk kakao di Belgia tersebut, memaparkan, para pendiri UKM Semesta Rasa sebenarnya merupakan anak-anak para petani di Desa Putat. UKM yang menekuni bisnis kakao itu, dia anggap sebagai lini hilir dari Kelompok Tani Sido Dadi.

"UKM Semesta Rasa merupakan UKM yang progresif dan aktif mengikuti berbagai lomba kewirausahaan, termasuk ikut Food Start-Up Indonesia yang digelar Kemenparekraf pada tahun 2020. Namun UKM Semesta Rasa belum pernah menang karena banyak kendala dan perlu perbaikan dalam aspek teknis maupun menejemen. Berdasarkan permasalahan yang kompleks tersebut, kami melakukan pendampingan melalui program kemitraan masyarakat Kelompok Tani Kakao dengan pelaku industri start- up bidang pangan berbasis olahan cokelat di Desa Putat," jelasnya.

Program tersebut, sambungnya, dilakukan UNS sejak 2019 dengan bantuan dana dari Kemendikbud Ristek/BRIN. Kegiatan pada tahun 2019 fokus pada aspek budidaya dan perawatan tanaman kakao, serta penanganan pasca panen dari buah kakao menjadi biji terfermentasi kering menggunakan alat kumbung. Alat yang diciptakan tim pimpinan Dr. Dimas, bisa mengeringkan biji kakao bdalam 3 hari atau lebih singkat dari pengeringan matahari yang pada musim penghujan bisa 10 hari.

Pada tahun 2020, kegiatan yang dilakukan Dr. Dimas bersama tim fokus pada aspek teknis pengolahan produk turunan kakao, termasuk pembuatan makanan ampyang cokelat, serta manajemen industri pangan yang meliputi cara produksi pangan olahan yang baik (CPPOB), hygiene, sanitasi, serta legalitas usaha.

Salah satu hasil pendampingan kegiatan ini adalah, UKM Semesta Rasa bertrasnformasi menjadi UKM berbadan hukum dalam bentuk CV dengan nama "CV Semesta Rasa Akselera."

Dalam kurun waktu pendampingan selama dua tahun, tim ahli dari UNS selain mentranfer ilmu ke mitra binaan, juga membantu berbagai peralatan produksi berupa peralatan perawatan kebun kakao, kumbung pengering biji kakao system hybrid dengan panas matahari dan kompor gas, serta satu set peralatan pengolahan pangan.

Kini, setelah petani kakao Desa Putat memanfaatkan ilmu dan teknologi secara baik, dapat menghasilkan coklat olahan berkualitas baik yang mendekati citarasa coklat Belgia.@tok

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.