Lawan Krisis Iklim dengan Pelestarian Pangan Lokal dan Konservasi Mata Air
“Pangan lokal mampu tumbuh dan beradaptasi dengan kondisi iklim dan lingkungan setempat. Keanekaragaman hayati yang telah beradaptasi dengan iklim lokal biasanya lebih tahan terhadap perubahan iklim. Dengan mempertahankan produksi pangan lokal, komunitas dapat mengurangi ketergantungan pada pangan impor dan mempertahankan akses terhadap sumber daya pangan dalam menghadapi perubahan iklim yang tidak pasti, ” ujar Maria.
Sementara itu, Manajer Program Ekosistem Pertanian Yayasan Kehati, Puji Sumedi menyampaikan pentingnya keberagaman pangan lokal juga menjadi pesan kuat yang harus kita lakukan sebagai salah satu aksi mengatasi krisis iklim dan tantangan pangan dan pertanian. “Pentingnya menjaga keanekaragaman hayati dan biodiversitas lingkungan menggambarkan bahwa ketahanan pangan masyarakat menjadi lebih kuat ketika tersedia beragam pangan lokal. Ketika gagal panen terjadi pada satu jenis tanaman tertentu akibat perubahan iklim atau bencana lainnya, masih ada beberapa jenis lain yang bisa menjadi cadangan pangan untuk dikonsumsi” ungkap Puji.
Adapun, Said Abdullah, Koordinator Nasional Koalisi Rakyat Untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) mengemukakan bahwa Indonesia akan menghadapi bonus demografi pada beberapa tahun ke depan, antisipasi krisis tersebut terutama yang menyangkut sektor pertanian dan pangan menjadi keniscayaan. Tidak hanya karena lebih dari setengah penduduknya bergantung pada sektor ini namun juga karena krisis tersebut dapat berdampak pada sistem pertanian dan pangan nasional.
“Gangguan pada sistem pertanian dan pangan turut mempengaruhi derajat kesehatan dan ketahanan pangan masyarakat. Data FAO, UNICEF, WHO, IFAD, dan WFP menunjukkan sekurangnya terdapat 735 juta orang kelaparan saat ini. Sebanyak 1/3 penduduk dunia tidak memiliki akses makanan memadai. Terdapat 150 juta anak balita stunting dan sebanyak 45 juta anak mengalami wasting. Situasi tersebut terjadi karena adanya gangguan pada sistem pertanian dan pangan” kata Said
Aksi Iklim oleh Local Champion Komunitas anak muda Gebetan (Gerep Blamu Tapobali Wolowutun) di Desa Tapobali, Kabupaten Lembata, menanam sorgum dan beberapa tanaman pangan lokal lainnya sebagai bentuk pelestarian pangan lokal yang adaptif terhadap perubahan iklim. Meskipun kondisi topografi Desa Tapobali cenderung kering dan berbatu, mereka tak patah semangat.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!