Lara, Ramadhan Segera Berlalu
VISI.NEWS | BANDUNG - Lara termenung di sudut kamar, menatap langit malam yang tak lagi dipenuhi gema tarawih. Hatinya terasa kosong, seperti ada sesuatu yang direnggut darinya. Ramadhan telah pergi, meninggalkan jejak rindu yang begitu dalam di hatinya. Ia mencoba menghibur diri, tapi tak bisa memungkiri betapa hatinya terasa hampa tanpa keberkahan bulan suci.
Hatinya bergema oleh lirik lagu yang dulu sering ia dengar saat kecil:
Sejenak mari kita merenungkan Setelah kita beribadah Ramadhan Masihkah adakah getar hati yang rindu Ramadhan janganlah jangan segera berlalu
Suara Rafika Duri dalam ingatannya seolah memperdalam luka rindu itu. Lara membayangkan Ramadhan seperti sahabat karib yang harus pergi entah kapan kembali. Ia bertanya-tanya, apakah dirinya masih diberi kesempatan untuk bertemu lagi dengan bulan penuh rahmat itu tahun depan?
Setiap detik di bulan Ramadhan terasa begitu berharga. Lara mengingat bagaimana ia bangun di waktu sahur, menahan kantuk sambil menyeruput segelas teh hangat. Ia merindukan suara azan Magrib yang selalu dinantikan, diiringi doa-doa yang dipanjatkannya dengan harap dan takut. Kini, semuanya tinggal kenangan yang mengendap di sudut hatinya.
Lara menelusuri galeri ponselnya, melihat foto-foto momen Ramadhan. Ada kebersamaan saat berbuka dengan keluarga, tadarus di masjid, serta malam-malam yang dipenuhi doa dan harapan. Air matanya mengalir tanpa bisa ia cegah. Ramadhan telah benar-benar pergi, meninggalkan kekosongan yang sulit diisi oleh bulan-bulan biasa.
Ia teringat betapa hangatnya suasana sahur dan berbuka bersama keluarganya. Kebersamaan yang terasa lebih bermakna dibanding hari-hari lain. Namun kini, meja makan tak lagi dipenuhi semangat berbuka, hanya ada makan malam yang biasa saja. Tidak ada lagi doa yang dipanjatkan dengan haru sebelum tegukan pertama membasahi tenggorokan.
Lara juga merindukan tarawih yang selalu menjadi momen mendekatkan diri kepada-Nya. Ia rindu berdiri di saf yang rapat, mendengar imam melantunkan ayat-ayat suci dengan begitu syahdu. Kini, masjid mulai lengang, kembali pada rutinitas biasa. Tidak ada lagi keriuhan anak-anak kecil yang berlarian di halaman masjid saat tarawih.
Setiap detik Ramadhan adalah anugerah, dan Lara merasa belum cukup mengisi hari-harinya dengan amal yang seharusnya. Ia menyesal atas waktu-waktu yang terlewat tanpa ibadah yang maksimal. Ramadhan telah berlalu, dan ia tak bisa mengulanginya kembali.
Ia bertanya dalam hati, apakah amalnya selama Ramadhan diterima? Apakah ia bisa menjaga ketakwaannya di luar bulan suci ini? Ramadhan telah mengajarkan begitu banyak hal, tetapi mampukah ia mempertahankan kebiasaan baik yang telah ia mulai?
Lara sadar bahwa Ramadhan bukan sekadar bulan, tetapi kesempatan. Kesempatan untuk berubah, kesempatan untuk lebih dekat kepada Tuhan. Kini, kesempatan itu telah berlalu, dan hanya ada harapan agar ia masih bisa bertemu kembali dengan Ramadhan tahun depan.
Hatinya kembali bergema oleh lagu yang membuatnya semakin pilu:
Itulah maknanya nilai bertaqwa Nurani ingin dekat selalu kepadaNya Setelah Ramadhan lenyap dan berlalu Mengapa hati ini terasa pilu
Ya Robby Yang Maha Kuasa Tambahkanlah setahun umur hamba Tahun depan kembali hamba puasa Manisnya iman ibadah tiada tara
Lagu itu seperti mewakili perasaannya. Lara tak bisa menahan tangisnya. Ramadhan telah pergi, dan ia merasa kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya.
Namun, di tengah kesedihannya, Lara berjanji dalam hati. Jika kelak ia dipertemukan kembali dengan Ramadhan, ia akan mengisi setiap detiknya dengan lebih baik. Ia tak ingin lagi menyesal di penghujung bulan suci itu.
Ramadhan mungkin telah pergi, tetapi nilai-nilainya harus tetap tertanam dalam hati. Lara ingin menjaga cahaya yang telah dinyalakan selama bulan suci. Ia ingin terus beribadah dengan semangat yang sama, meskipun Ramadhan telah meninggalkannya.
Ia menutup matanya, menarik napas dalam-dalam, lalu berbisik dalam hati, "Ya Allah, pertemukan aku kembali dengan Ramadhan-Mu yang penuh berkah." Hanya doa yang bisa ia panjatkan, sambil berharap kelak ia bisa menyambut Ramadhan lagi dengan hati yang lebih siap.***
@aep sa
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!