Laba Naik, BBCA Tetap Jadi Sasaran Utama Aksi Jual Investor Asing
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)./visi.news/daily.
VISI.NEWS - Arus keluar dana asing atau capital outflow dari pasar saham Indonesia masih berlanjut setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) membekukan sejumlah saham Indonesia. Di tengah kondisi tersebut, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi salah satu emiten yang paling terdampak oleh aksi jual investor asing.
PT Samuel Sekuritas mencatat nilai capital outflow mencapai Rp75 triliun sepanjang tahun berjalan atau year to date (YTD). Sementara itu, data Mirae Asset Sekuritas menunjukkan arus keluar dana asing telah mencapai Rp89,28 triliun.
Tekanan tersebut turut memengaruhi kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih terkoreksi 32,08 persen sejak awal tahun akibat sentimen global dan domestik.
Wakil Direktur PT Samuel Sekuritas Suria Dharma mengatakan, BBCA menjadi saham dengan tekanan jual asing terbesar. Menurutnya, dana asing yang keluar dari saham BBCA diperkirakan mencapai lebih dari Rp30 triliun sejak awal 2026.
Besarnya bobot saham BBCA dalam berbagai indeks global menjadi salah satu alasan saham tersebut menjadi sasaran utama aksi jual investor institusi asing.
"Kalau year-to-date paling besar BBCA, BBCA itu karena bobotnya kan paling tinggi di indeksnya. Jadi banyak sekali fund yang memang mempunyai posisi sangat besar di BBCA. Year-to-date keluar kalau saya tidak salah Rp 30 triliun lebih ya, itu angka yang luar biasa ya," ujar Suria kepada Kompas.com, Kamis (9/7/2026).
Suria menegaskan, tekanan terhadap saham BBCA bukan disebabkan oleh penurunan fundamental perusahaan. Kinerja keuangan bank tersebut masih menunjukkan pertumbuhan positif.
BBCA mencatat laba bersih konsolidasian sebesar Rp14,7 triliun pada kuartal I 2026. Angka tersebut meningkat 3,8 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp14,1 triliun.
Secara kuartalan, laba bersih BBCA juga naik 3,8 persen dibandingkan kuartal IV 2025 yang mencapai Rp14,1 triliun.
Menurut Suria, faktor utama yang menekan harga saham BBCA adalah arus keluar dana asing akibat penyesuaian portofolio investor global.
"Tidak ada masalah dengan fundamental, laba bersih juga tumbuh masih bagus, semua-semua bagus. Tapi memang karena ini isunya ada flow asing, itu efeknya paling besar dari situ," paparnya.
Suria juga meminta regulator memperhatikan sejumlah catatan dari penyedia indeks global seperti MSCI, FTSE Russell, dan S&P Dow Jones Indices. Hal tersebut terutama berkaitan dengan aspek transparansi, free float, serta kebijakan pasar modal.
Ia menilai regulator telah menunjukkan kemajuan dalam meningkatkan transparansi bagi investor global. Namun, kebijakan baru diharapkan tidak membuat perusahaan Indonesia kehilangan peluang untuk tetap masuk dalam indeks internasional.
"Transparansi sudah dilakukan. Cuma yang saya pikir perlu diperhatikan adalah jangan membuat kebijakan yang akhirnya mendorong perusahaan-perusahaan yang sudah masuk indeks MSCI maupun FTSE justru dihapus dari indeks," pungkas dia.
Suria menilai regulasi pasar modal tetap diperlukan, tetapi penerapannya perlu mempertimbangkan dampak terhadap daya saing perusahaan Indonesia di pasar global.
"Bukan berarti peraturan itu harus dilanggar. Maksud saya, apakah memang aturan itu harus begitu ketat sehingga membuat beberapa perusahaan yang sudah masuk indeks akhirnya keluar. Padahal tujuan kita seharusnya adalah mendorong semakin banyak perusahaan Indonesia masuk ke indeks global," lanjut Suria.
Ia berharap regulator dapat menjaga keseimbangan antara peningkatan tata kelola pasar modal dan upaya menarik minat investor internasional.
"Harapan saya jangan ada aturan-aturan yang akhirnya merugikan investor maupun perusahaan yang sudah masuk ke indeks global," tutupnya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!