Kuwatan Sadesa Jadi Strategi Pupuk Kujang Wujudkan Desa Mandiri Berbasis Potensi Lokal
Podcast PT Pupuk Kujang bersama visi.news di Kuwatan Sadesa, Minggu (14/6/2026)./visi.news/ist.
VISI NEWS | BANDUNG - PT Pupuk Kujang terus memperkuat komitmennya dalam menjalankan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) melalui sebuah konsep besar yang diberi nama Kuwatan Sadesa. Program ini menjadi payung utama berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat dan pelestarian lingkungan yang dijalankan perusahaan di berbagai wilayah binaan.
Vice President TJSL PT Pupuk Kujang, Agung Gustiawan, menjelaskan bahwa Kuwatan Sadesa berasal dari bahasa Sunda yang memiliki makna 'menguatkan desa'. Nama tersebut dipilih karena mencerminkan harapan besar perusahaan untuk membangun desa secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga hubungan sosial, lingkungan, serta tata kelola yang berkelanjutan.
"Kuwatan Sadesa merupakan konsep besar TJSL Pupuk Kujang yang memiliki harapan agar satu desa dapat tumbuh dan berkembang secara mandiri. Di dalam desa ada masyarakat, lingkungan, potensi alam, dan berbagai elemen yang saling terhubung. Semua itu harus diperkuat secara bersama-sama agar kesejahteraan masyarakat dapat terwujud," ujar Agung dalam sebuah podcast, Senin (15/6/2026).
Lebih lanjut, Kuwatan Sadesa juga memiliki makna filosofis yang dirangkum dalam akronim Kujang Merawat Hutan, Masyarakat, dan Desa. Konsep tersebut menjadi landasan bagi seluruh program sosial perusahaan yang berorientasi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
Menurut Agung, tujuan utama program ini adalah menciptakan masyarakat yang lebih sejahtera melalui pendekatan pembangunan yang terintegrasi. Seluruh program TJSL Pupuk Kujang dirancang dengan mengacu pada prinsip pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), yang mencakup empat pilar utama, yakni ekonomi, sosial, lingkungan, dan tata kelola.
"Kami tidak ingin program ini hanya menjadi kegiatan yang berdiri sendiri atau hanya menyentuh satu titik. Yang kami bangun adalah sebuah ekosistem yang melibatkan masyarakat, pemerintah daerah, akademisi, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan," katanya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!