KPU Gelar Diskusi Bertema "Pemilu 2024 di Mata Gen Z"
“Anak muda tidak menutup mata. Mereka concern terkait ‘social issue" dan ‘politic issue" yang berdampak langsung bagi kehidupan mereka. Misalnya, isu pemilu, ketenagakerjaan, demokrasi, lingkungan, dan korupsi,” kata Jocelyn.
Sedangkan narasumber terakhir, Farchan Misbach Adinda, HIMA Hukum Universitas Nahdhatul Ulama (Unusia) menguraikan peran dan partisipasi Gen Z. Menurut Farhan anak-anak muda harus memahami esensi demokrasi.
Pemilu dan demokrasi sulit dipisahkan satu sama lain. Namun demokrasi tidak melulu soal pemilu. Gen Z juga harus melek politik, selain literasi digital, literasi politik tidak kalah penting untuk Gen Z yang menjadi tools dalam memutuskan pilihannya selama pesta demokrasi.
Gen Z dapat menjadi second journalist/agent of control yang senantiasa memantau berjalannya pesta demokrasi dengan memanfaatkan media kreatif yang selalu konsen dan kritis.
Terakhir, menjadi pemilih cerdas, kritis, dan kreatif. Tidak golput, ikut menggunakan hal pilih dengan mencoblo, mendukung kegiatan kegiatan yang dilakukan penyelenggara pemilu, misalnya sosialisasi pemilu.
“Siapa bilang Gen Z apolitis? Demonstrasi #ReformasiDikorupsi jadi bukti aktivisme politik Gen Z yang sering dituduh acuh soal dunia politik. Aksi ini bahkan jadi kolaborasi aktivisme di jalanan dan media sosial dulu tidak pernah terbayangkan sama sekali oleh generasi pendahulu,” Farhan memberi contoh.
Sebagai informasi, diskusi yang diselenggarakan KPU dengan media ini merupakan komitmen KPU terkait pemilu inklusif atau pemilu yang melibatkan multipihak termasuk media.
Diskusi dipandu Joshua Sihombing, Presenter Pro 3 RRI dan dihadiri, jurnalis media daring, TV, cetak, dan radio. @fen
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!