Kontinuitas Al-Qur’an
Benih munculnya aliran modern dalam Islam ini sudah dimulai pada masa kehidupan Ibn Taymiyyah. Pada masa ini Ibn Taymiyyah sudah mulai melakukan peninjauan ulang terhadap kajian-kajian keagamaan yang dilakukan oleh para pendahulunya. Melalui tinjauan ulang ini maka, pemikiran-pemikiran yang dikemukakan oleh Ibn Taymiyyah banyak yang berbeda bila dibanding dengan pemikiran-pemikiran para pendahulunya.
Kita tahu bahwa, al-Qur’an juga turun membawa pesan-pesan pembaharuan dan karena itu semangat pesan al-Qur’an ini harus ditangkap supaya dapat di ejewantahkan dalam kehidupan sehari-hari. Bertitik dari pengalaman sejarah, maka pada masa sahabat telah terjadi kemajuan pemikiran dimana mereka memahami ayat-ayat al-Qur’an dengan cara yang beragam.
Menurut al-Hajwi bahwa pada masa al-khulafa’ al-rasyidun (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali) adalah masa pengembangan pemikiran karena para sahabat langsung melihat ayat-ayat al-Qur’an sebagai sumber dan memberikan berbagai penafsiran. Kemajuan pemikiran pada masa khalifah yang empat ini disebabkan kejelian mereka memanfaatkan momen terbukanya kran ijtihad yang dapat memotivasi kebebasan berpikir mereka, serta munculnya kasus-kasus yang belum ada format sebelumnya.
Tak heran jika hasil ijtihad yang mereka lakukan dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an sangat layak dijadikan sebagai referensi bagi generasi berikutnya. Peran aktif ijtihad pasca sahabat diyakini tidak akan jauh terpisah dari bingkai ijtihad sahabat sebelumnya.
Memposisikan al-Qur’an sebagai petunjuk berarti harus ada upaya yang dilakukan secara terus-menerus untuk menggali makna-makna yang terkandung di dalamnya dan tidak hanya mencukupkan makna-makna yang sudah dicetuskan oleh para pendahulu. Untuk mendapatkan penambahan dan peralihan makna-makna ini, maka kondisi sosial sudah seharusnya dipertimbangkan dalam memahami ayat-ayat al-Qur’an.
Kondisi sosial inilah yang digunakan Nabi Muhammad Saw. ketika memberikan pemahaman terhadap ayat-ayat al-Qur’an kepada masyarakat sehingga al-Qur’an dapat mereka jadikan sebagai solusi alternatif terhadap problema-problema yang berkaitan dengan kehidupan mereka ketika itu. Sebagai solusi alternatif, maka ayat-ayat al-Qur’an selalu berbicara pada tataran universal yang tingkat akurasinya dapat di interpretasikan dalam konteks lokal agar ayat-ayat al-Qur’an terkesan lebih dinamis, cocok dan sesuai kapan dan dimana saja. Berdasarkan hal ini, maka pengkajian terhadap ayat-ayat al-Qur’an terus saja berlanjut karena kandungan makna yang terdapat di dalam al-Qur’an memiliki cakupan yang sangat luas.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!