Kisah Raja Andalusia Spanyol Saat Menghadapi Kemarau Panjang
يَا رَبِّ هَذِهِ نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ أَتَرَاكَ تَعْذًَبُ بِي الرَّعِيَّةَ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِيْنَ لَنْ يَفُوْتَكَ شَيْءٌ مِنِّي
Artinya: “Wahai tuhanku! Ini (kemarau panjang) adalah bagianku atas kehendak-Mu. Tidakkah Engkau melihat, Engkau telah menyiksa rakyat gara-gara aku, sedangkan engkau merupakan hakim yang paling adil. Tidak akan ada sesuatu yang hilang dari-Mu karena (kesalahan) dariku.”
Setelah prajurit itu menceritakan keberadaan Raja Abdurrahman III an-Nashir kepada Qadhi Munzir bin Sa’id, ia langsung tersenyum bahagia, dan mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh raja sudah mewakili dari semua yang ingin dilakukan oleh rakyatnya saat itu.
Kemudian ia berkata kepada semua rakyat yang hadir dalam pelaksanaan salat istisqa itu, bahwa hujan tidak lama lagi akan turun. Lalu ia mengerjakan salat sunnah istisqa.
Atas izin Allah, sebelum salat sunnah minta hujan selesai dilaksanakan, Allah telah memberikan hujan kepada mereka dengan sangat lebat.
Dari hujan itu pula, akhirnya tanah Andalusia yang semula gersang, tandus dan kering kerontang, akhirnya menjadi tanah yang subur. Semua pepohonan kembali tumbuh dan berbuah.
Itulah kisah ketika kemarau panjang menimpa Andalusia di masa kepemimpinan Raja Abdurrahman III an-Nashir dalam kitab Nafhut Thib min Ghasnil Andalusir Rathib, cetakan Beirut, Daru Shadir, tahun 1968, juz I, halaman 573-574, karya Imam Ahmad bin Muhammad al-Maqqari at-Tilmisani.
Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!