KHUTBAH JUMAT | Tetap Membaca Al-Qur’an di Tengah Kesibukan Hidup
Ilustrasi./visi.news/ist.
Membaca Al-Qur’an adalah ibadah. Memahami Al-Qur’an adalah cahaya. Mengamalkan Al-Qur’an adalah jalan keselamatan. Pasalnya, Al-Qur’an adalah petunjuk kehidupan. Di dalam Al-Qur’an terdapat jawaban atas kegelisahan hati manusia.
Untuk itu, di tengah kehidupan yang penuh tekanan, persaingan, dan berbagai persoalan, Allah menghadirkan Al-Qur’an sebagai sumber ketenangan dan arah kehidupan.
Allah Swt berfirman dalam surat Yunus ayat 57;
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَاۤءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ
Artinya: “Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang terdapat dalam dada, petunjuk, serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57) Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Tafsir Marah Labid, juz I hal 489 menjelaskan bahwa ayat ini menjelaskan bahwa Al-Qur’an memiliki empat fungsi besar bagi kehidupan manusia.
Pertama, Al-Qur’an sebagai mau’izhah, yaitu nasihat dan pelajaran. Al-Qur’an mengingatkan kita tentang mana yang benar dan mana yang salah, mana jalan yang membawa kebaikan dan mana jalan yang membawa kerusakan.
Kedua, Al-Qur’an sebagai syifa’, yaitu obat bagi hati. Sebab tidak sedikit manusia hari ini yang sehat jasmaninya, tetapi hatinya gelisah. Banyak yang memiliki harta, tetapi kehilangan ketenangan. Banyak yang memiliki kedudukan, tetapi kehilangan kebahagiaan.
Ketiga, Al-Qur’an sebagai hudan, yaitu petunjuk. Al-Qur’an menjadi kompas agar manusia tidak kehilangan arah dalam menjalani kehidupan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!