KHUTBAH JUMAT | Rentetan Peristiwa Jelang Kelahiran Nabi SAW
Alunan shalawat dan syair-syair cinta Rasul, serta lantunan ayat-ayat suci Al-Quran, lebih sering terdengar dari sudut-sudut kampung dan pemukiman insan Muslim.
Nilai-nilai luhur dan pesan-pesan keagamaan kembali dikokohkan para pendakwah dan pewaris para nabi.
Hal itu kian menegaskan betapa tingginya kecintaan mereka terhadap Rasulullah saw. dan betapa kuatnya keinginan mereka berkumpul bersamanya kelak pada hari Kiamat. Sebab kelak, setiap hamba akan dikumpulkan bersama orang-orang tercinta. أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ Artinya, “Engkau bersama orang-orang yang engkau cintai,” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim).
Peringatan itu dilakukan kaum Muslimin sebagai wujud kecintaan mereka terhadap Rasulullah Saw. sebagai panutan alam yang sangat berjasa pada mereka. Sebab, beliau adalah sosok pembawa cahaya penerang di tengah kegelapan. Beliau bak oase di tengah gurun tandus. Dan beliau pula yang mengantarkan mereka kepada pintu gerbang keimanan. Pantaslah mereka gembira karena kelahirannya. Sebab ia nabi paling mulia, utusan rahmat ke seluruh alam.
Bukankah kita diperintah supaya bergembira, tatkala datang karunia dan rahmat Allah?
قُلۡ بِفَضۡلِ ٱللَّهِ وَبِرَحۡمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلۡيَفۡرَحُواْ
Artinya, “Katakanlah, ‘Dengan kurnia dan rahmat Allah, hendaklah dengan itu mereka bergembira,’” (QS. Yunus : 58).
Pertanyaannya, mengapa kaum Muslimin mengenang Rasulullah saw. pada hari kelahirannya, bukan pada hari wafatnya, layaknya tradisi haul atas wafatnya para ulama atau orang berjasa?
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!