KHUTBAH JUMAT | Penawar Tabiat Buruk
Pada ayat berikutnya, Allah menjelaskan sifat manusia lainnya, yakni memiliki sifat jazu’a. Menurut Tsa’lab, penjelasan sifat jazu’a sendiri adalah, ketika ditimpa keburukan, manusia suka mengeluh, mengadu, protes, tidak syukur, dan tidak bersabar.
Jadi sampai di sini, manusia itu memiliki sifat bawaan: kufur, ingkar, suka mengeluh, resah, gundah, galau, mudah bosan, tidak sabar, terutama di saat mengebu-gebunya keinginan dan harapan. Ia terbelenggu oleh keinginannya sendiri. Akibatnya, jika keinginan itu tidak tercapai, ia mudah frustasi dan menyalahkan siapa saja.
Ketiga, manusia memiliki sifat manu’a, yaitu ketika diberi kebaikan, ia kikir, pelit, dan tidak syukur. وَإِذَا مَسَّهُ ٱلۡخَيۡرُ مَنُوعًا
Masih menurut Tsa’lab, jika mendapat kebaikan, nikmat, atau anugerah, manusia suka kikir, tidak mau berbagi, bahkan tidak ingat kepada yang menganugerahinya.
Walhasil, seperti yang ditegaskan Ibnu Kaisan, manusia itu tercipta dalam keadaan gemar menyukai apa yang disenangi dan diridainya serta menjauhi apa yang tidak disukai dan dibencinya.
Padahal, Allah memerintah untuk menginfakkan apa yang disukainya dan bersabar menghadapi perkara yang tidak disukai. Sehingga tak heran, menurut Abu Ubaidah, jika ditimpa kebaikan, manusia itu tidak mau bersyukur, serta ditimpa kesusahan tidak mau bersabar.
Manusia terkadang lupa, dirinya hanya bisa berkeinginan, yang menentukan tetaplah Allah. Sebesar apa pun keinginan, keputusannya tetap harus sesuai dengan kehendak Allah. Sekuat apa pun pun usaha, tidak akan mampu menembus benteng takdir.
Demikian seperti yang diungkapkan oleh Syekh Ibnu ‘Athaillah dalam Hikam-nya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!