KHUTBAH JUMAT | Mengevaluasi Diri
Terkadang, orang lebih sibuk menilai dan mengevaluasi kehidupan orang lain daripada mengevaluasi diri sendiri. Hal ini merupakan kesalahan yang dapat mengakibatkan kerugian diri sendiri. Ia akan terperangkap pada kegagalan menemukan kekurangan diri sendiri karena menganggap dirinya sudah baik dan sempurna.
Menurut Imam Maimun bin Mihran, introspeksi diri merupakan salah satu indikator ketakwaan seseorang. Ia berkata sebagaimana dikutip Imam Ibnu Abi Syaiybah dalam kitab Al-Mushannaf,
لَا يَكُونُ الرَّجُلُ تَقِيًّا حَتَّى يُحَاسِبَ نَفْسَهُ أَشَدَّ مِنْ مُحَاسَبَةِ الرَّجُلِ شَرِيكَهُ، حَتَّى يَنْظُرَ مِنْ أَيْنَ مَطْعَمُهُ، وَمَشْرَبُهُ، وَمَكْسَبُهُ
Artinya, “Seseorang tidak akan menjadi hamba yang bertakwa sampai ia mampu melakukan menilai diri sendiri lebih baik dari pada ia menilai orang lain, bahkan sampai ia mampu mengevaluasi dari mana makanannya, minumannya, dan penghasilannya.”
Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah
Introspeksi diri tidak cukup dilakukan sekali seumur hidup atau sekali setahun. Introspeksi diri harus dilakukan secara konsisten untuk melakukan perencanaan yang baik di hari esok.
Imam Ibnu Mubarak mengutip perkataan Imam Wahab ibnu Munabbih sebagai berikut,
حَقٌّ عَلَى الْعَاقِلِ أَنْ لَا يَغْفَلَ عَنْ أَرْبَعِ سَاعَاتٍ: سَاعَةٍ يُنَاجِي فِيهَا رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ، وَسَاعَةٍ يُحَاسِبُ فِيهَا نَفْسَهُ، وَسَاعَةٍ يُفْضِي فِيهَا إِلَى إِخْوَانِهِ الَّذِينَ يُخْبِرُونَهُ بِعُيُوبِهِ، وَيَصْدُقُونَهُ عَنْ نَفْسِهِ، وَسَاعَةٍ يُخَلِّي بَيْنَ نَفْسِهِ وَبَيْنَ لَذَّاتِهَا فِيمَا يَحِلُّ وَيَجْمُلُ
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!