KHUTBAH JUMAT | Kecerdasan di Era Digital
Oleh Mustari Mustafa, Guru Besar Filsafat UIN Alauddin Makassar
SAAT ini kita berada dalam era yang kita sebut dengan berbagai nama, seperti : post-modern, revolusi industri 4.0, era digital, era Internet of Everything (IoE), yang diyakini akan menjadi masa depan industri jaringan dan teknologi komunikasi.
IoE sendiri diawali oleh Internet of Thing (IoT). Dalam konsep IoT, semua benda terkoneksi dan bisa “berkomunikasi” via jaringan internet.
IoE menyempurnakan konsep tersebut. IoE memungkinkan semua hal terkoneksi, mulai manusia, data, proses, dan benda-benda, semuanya terhubung via internet.
Era ini sering disalahpahami oleh manusia pascamodern karena melihat begitu kuatnya pengaruh internet yang kemudian menuding bahwa zaman berpikir atau zaman berfilsafat sudah berakhir, berpikir sudah terganti oleh browsing dan googling.
Dalam filsafat, memang ada sebutan bahwa filsafat sudah mati, yang dihubungkan dengan pengumuman Filosof Post Modern Friedrich Nieztsche bahwa tuhan sudah mati.
Kesalahpahaman terjadi karena “akhir” atau “kematian” yang dimaksud itu sebetulnya adalah cara-cara berfilsafat yang kedaluwarsa, tidak adaptif, dan terpaku pada satu mazhab (mazhab oriented).
Maka Filsafat atau Logos di era digital ini adalah berpikir yang mendalam (cogito), adabtif, terbuka dan moderat.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!