KHUTBAH JUMAT | Kalau Mudah, Kenapa Dipersulit?
Jamaah kaum Muslimin yang dirahmati Allah Islam dibangun di atas prinsip kemudahan, dan nilai itu seharusnya tampak dalam cara kita memperlakukan orang lain. Nabi saw mengajarkan agar kita mempermudah urusan sesama, bukan menyulitkan.
Namun, penting dipahami bahwa kemudahan yang dimaksud adalah dalam sikap dan pelayanan, bukan dengan mengabaikan aturan, syariat, atau prosedur formal yang berlaku. Islam tidak mengajarkan sikap semaunya sendiri, apalagi sampai melanggar ketertiban yang telah disepakati.
Jamaah kaum Muslimin yang dirahmati Allah
Dalam aktivitas sehari-hari, mempermudah bisa dimulai dengan cara sederhana. Saat kita menerima chat, telepon, atau permintaan bantuan dari teman, keluarga, atau kerabat, jangan diabaikan tanpa alasan yang jelas. Jika memang bisa dibantu sesuai kapasitas, bantulah dengan cepat dan jelas. Memberi kepastian, meski itu berupa penolakan yang baik, seringkali lebih meringankan daripada membiarkan orang lain menunggu tanpa kejelasan.
Kemudian, terkait urusan tanggung jawab, mempermudah juga berarti tidak menahan hak orang lain. Hutang, janji, atau tugas adalah kewajiban yang harus segera kita tunaikan. Menunda tanpa alasan yang sah adalah salah satu bentuk kezaliman yang kita lakukan untuk diri sendiri dan orang lain.
Jamaah kaum Muslimin yang dirahmati Allah
Selanjutnya, bagi kita yang berprofesi sebagai pejabat atau siapa pun yang memiliki kewenangan. Melayani masyarakat dengan baik adalah bentuk mempermudah yang nyata, selama tetap mengikuti prosedur yang telah ditetapkan.
Mempermudah dalam konteks ini bukan berarti melanggar aturan atau mengakali sistem, tetapi memberikan pelayanan yang cepat, transparan, dan tidak mempersulit hal-hal yang memang sudah jelas ketentuan serta prosedurnya. Dengan begitu, kemudahan tetap terjaga tanpa mengorbankan ketertiban dalam bermasyarakat di negara hukum.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!