KHUTBAH JUMAT | Ciri-ciri Generasi Terburuk Menurut Rasulullah SAW
Fenomena itulah yang kini banyak terjadi pada masyarakat kita. Mementingkan perut berarti seseorang ingin memperoleh kekayaan dengan menghalalkan segala cara. Bahkan meskipun seseorang sudah mendapatkan rezeki yang secara halal, hal itu akan dimanfaatkan untuk kepentingan diri dan keluarganya saja sehingga tidak peduli dengan kekurangan yang dialami orang lain.
Akibat lain yang sangat berbahaya dari mementingkan perut adalah seseorang menjadi takut lapar, kuatir tidak mendapatkan rizeki sehingga membuatnya takut menanggung risiko dalam menjalani kehidupan secara benar. Tak heran, orang yang selalu mementingan urusan perut menjadi manusia yang melakukan sesuatu jika menguntungan dirinya secara materi. Dia tidak mau mengerjakan sesuatu ketika sesuatu itu mengakibatkan kesulitan dalam hidupnya, apalagi jika sampai mengakibatkan perutnya menjadi lapar.
Jamaah Jumat rahimakumullah
Ciri kedua dari generasi terburuk adalah memuliakan perhiasan. Dalam hidup ini, manusia menghiasai dirinya dengan berbagai perhiasan hidup seperti rumah, kendaraan, pakaian, emas permata, dan lain sebagainya. Semua itu sering kali dijadikan ukuran bagi kemuliaan seseorang, padahal benda-benda itu hanya aksesoriis belaka. Nah, generasi terburuk menjadikan perhiasan hidup sebagai tolok ukur kemuliaan seseorang, sementara kemuliaan seseorang di mata Allah akan diukur seberapa besar ketakwaannya.
Hal ketiga yang merupakan ciri generasi terburuk adalah mengagungkan perempuan, yaitu menuruti syahwat terhadap perempuan yang tidak halal baginya atau memenuhi ajakan perempuan untuk melakukan perzinahan. Ini merupakan sesuatu yang sangat hina. Allah berfirman:
وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاء سَبِيلاً
“Dan janganlah kamu mendekati zina, (zina) itu sungguh suatu perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk.” .
Selain itu mengagungkan perempuan juga dapat dipahami sebagai pemenuhan keinginan-keinginan yang tidak baik dari prempuan, termasuk seorang suami yang takut kepada istrinya sehingga harus memenuhi keinginan istrinya yang tidak benar. Ketakutan kepada istri membuat suami tidak berani meluruskan ksesalahan istri, padahal istri merupakan tanggungjawab suami untuk diselamatkan dari api neraka.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!