Ketika Nikah Siri Online Menjaring Korban: Suara Lembut Fatayat NU Mengingatkan Kita
Dengan nada lembut namun penuh makna, ia mengajak masyarakat untuk tidak tergoda oleh harga murah atau proses cepat. “Biaya murah hari ini bisa menjadi biaya sosial yang mahal di masa depan,” ucapnya. Fatayat NU meminta masyarakat mengedepankan kehati-hatian, bukan sekadar mengikuti tren yang tampak mudah.
Margaret juga mengajak tokoh agama, pendidik, hingga organisasi perempuan untuk terlibat aktif dalam edukasi publik. Menurutnya, literasi hukum dan syariat harus diperkuat sehingga masyarakat memahami konsekuensi nyata dari pernikahan tanpa pencatatan. “Kita perlu membangun pemahaman yang utuh, bukan setengah-setengah,” katanya.
Fenomena nikah siri online, baginya, tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Platform digital pun memiliki tanggung jawab besar. Fatayat NU mendesak agar mereka lebih tegas menindak akun-akun penyedia jasa nikah siri yang berisiko merugikan publik. “Platform digital harus menjadi bagian dari solusi,” tegas Margaret. Ia berharap ada mekanisme pelaporan dan penindakan yang lebih kuat untuk mencegah promosi semakin meluas.
Di akhir pembicaraan, Margaret kembali menegaskan komitmen Fatayat NU untuk memperjuangkan perlindungan perempuan dan anak. “Pencatatan pernikahan adalah ikhtiar menjaga masa depan,” ujarnya. Dalam dunia digital yang serba instan, suara Fatayat NU mengingatkan kita bahwa tidak semua yang cepat itu baik, dan tidak semua yang mudah itu benar. Kadang, menjaga martabat keluarga justru dimulai dari memilih jalan yang lebih panjang—tetapi lebih aman.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!