Ketika Gurun Sahara Banjir, tapi Sungai Amazon Justru Mengering
VISI.NEWS | AFRIKA UTARA - Gurun Sahara dan sungai Amazon mengalami kondisi yang saling bertolak belakang. Gurun Sahara yang menjadi salah satu tempat paling gersang di dunia, kini dilanda banjir usai diguyur huja ekstrem. Sementara, sungai Amazon yang merupakan sumber air terbesar di dunia, mengering hingga mencapai titik terendahnya dalam sejarah.
Para ilmuwan memprediksi, dampak cuaca ekstrem seperti itu masih akan berlanjut dan lebih intens pada masa depan karena perubahan iklim.
Gurun Sahara dilanda banjir besar tempat paling gersang dan tandus di dunia yang membentang dari Laut Merah di timur, Laut Tengah di utara, Samudra Atlantik di barat, dan Sahel di selatan, pertama kalinya banjir sejak setengah abad yang lalu. Selama September 2024, hujan deras turun di beberapa bagian gurun di tenggara Maroko.
Data awal satelit NASA menunjukkan, curah hujan hampir 203 mililiter (mm) di beberapa bagian wilayah tersebut. Di Tagounite, sebuah desa yang berada sekitar 450 kilometer di selatan ibu kota Maroko, Rabat, mengalami curah hujan mencapai 100 mm dalam 24 jam.
Jumlah tersebut lebih dari empat kali lipat curah hujan normal selama September 2024 dan setara dengan curah hujan selama lebih dari setengah tahun di wilayah ini.
“Sudah 30 sampai 50 tahun sejak kami mengalami hujan sebanyak ini dalam waktu yang singkat,” kata Houssine Youabeb dari Badan Meteorologi Maroko.
Menurut penelitian terbaru, curah hujan yang lebih ekstrem akan terjadi di Sahara pada masa depan, karena polusi bahan bakar fosil terus memanaskan planet ini dan mengganggu siklus air.
Sungai Amazon mengering pada titik terendah Saat gurun Sahara dilanda banjir, salah satu sumber air terbesar di dunia, sungai Amazon justru mengalami kekeringan parah.
Menurut laporan dari Badan Geologi Brasil (SGB), kedalaman air pada anak sungai yang berada di lembah Amazon telah mencapai rekor terendahnya, di tengah kekeringan yang terus berlanjut. Misalnya, ketinggian air di sungai Madeira, anak sungai utama Amazon, turun menjadi hanya 48 cm di kota Porto Velho.
Sungai Solimoes juga turun ke level terendah dalam catatan di Tabatinga, di perbatasan Brasil dengan Kolombia. Badan pemantau bencana alam Brasil, Cemaden, menggambarkan kekeringan saat ini sebagai kekeringan yang “paling parah dan meluas” yang pernah tercatat, dilansir dari BBC (18/9/2024). @desi
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!