Ketidakadilan pada Perempuan Lahir dari Kesalahan Cara Pandang Sosial

ED
Rabu, 6 Oktober 2021 | 06:58 WIB
Bagikan
Ketidakadilan pada Perempuan Lahir dari Kesalahan Cara Pandang Sosial

VISI.NEWS | JAKARTA -Ketidakadilan pada perempuan kerap terjadi dalam lingkup sosial masyarakat. Mirisnya, ketidakadilan yang berakar terhadap cara pandang negatif kepada perempuan ini kerap tidak disadari karena muncul dalam tindakan yang diyakini baik dan ilmiah oleh masyarakat. Pernyataan itu diungkapkan oleh akademisi bidang tafsir dan pendiri Ngaji Keadilan Gender Islam (KGI), Nur Rofiah, saat mengisi kelas Keadilan Gender Islam di acara Duta Santri Nasional 2021.

Menurutnya, hal tersebut juga kerap muncul dalam pandangan keagamaan. Sementara diyakini bahwa Islam justru mempunyai cara pandang yang sangat positif pada perempuan. “Islam telah menegaskan kemanusiaan perempuan sejak awal hadir. Artinya, perempuan dan laki-laki sama-sama berstatus hanya hamba Allah yang mengemban amanah sebagai khalifah fil 'ardl,” tutur Dosen Program Pascasarjana Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur’an (PTIQ) Jakarta itu.

Sebab, kata dia, keduanya (perempuan dan laki-laki) menjadi subyek penuh sistem kehidupan sehingga sama-sama wajib mewujudkan kemaslahatan di muka bumi, sekaligus berhak menikmatinya. "Manusia tidak hanya sebagai makhluk jasmani tapi juga makhluk ruhani yang membutuhkan kasih sayang, dihormati, dan dihargai. Status melekat yang dibawa manusia sejak lahir, yaitu sebagai hamba Allah swt konsekuensinya adalah tidak boleh menghamba selain kepada-Nya,” kata penulis buku Nalar Kritis Muslimah itu. “Misalnya, menghamba popularitas, maupun menghamba kepada harta dan tahta. Apalagi saling memperhamba satu sama lain,” sambungnya.

Kemanusiaan perempuan

Menurut alumni Universitas Ankara Turki ini, ketidakadilan yang kerap disandingkan dengan perempuan berakar dari cara pandang negatif pada lima pengalaman biologis perempuan, yaitu menstruasi, hamil, melahirkan, nifas, dan menyusui. Selanjutnya membuat perempuan sangat rentan alami lima pengalaman sosialnya, yaitu dicap negatif (stigmatisasi), direndahkan (subordinasi), dipinggirkan (marjinalisasi), kekerasan, dan beban ganda. Cara pandang positif pada perempuan, jelasnya, meniscayakan pengakuan atas lima pengalaman biologis perempuan sebagai bagian dari kemanusiaan mereka. Karena lima pengalaman biologis perempuan tersebut disertai dengan rasa sakit (adza) bahkan sangat sakit (wahnan ‘ala wahnin), maka sebuah tindakan hanya disebut manusiawi jika tidak menambah sakit lima pengalaman biologis ini.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.