Kemensos Ungkap Penyebab Perubahan Desil DTSEN Volume 3

Desi Rossilawati
Jumat, 4 September 2026 | 15:46 WIB
Bagikan
Kemensos Ungkap Penyebab Perubahan Desil DTSEN Volume 3

Menteri Sosial (Mensos), Saifullah Yusuf./visi.news/cakrakrisna.

VISI.NEWS - Kementerian Sosial (Kemensos) mengungkap penyebab terjadinya perubahan desil pada Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) Volume 3.

Menteri Sosial (Mensos), Saifullah Yusuf, mengatakan perubahan desil yang cukup signifikan terjadi setelah masuknya sekitar 12 juta data baru dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

"Baru masuk 12 juta data baru dari BKKBN yang belum dilakukan verifikasi dan validasi. Sehingga loncat-loncat," kata Gus Ipul sapaan akrab Mensos dalam siaran pers dikutik, Jumat (4/9/2026).

Menurut Gus Ipul, pemerintah terus melakukan konsolidasi dan pemutakhiran DTSEN bersama pemerintah daerah untuk membenahi data dan meningkatkan akurasinya.

"Nah sekarang sudah distabilkan, dirapikan, diverifikasi dan validasi. Insyaallah dalam waktu 1-2 minggu ke depan, data ini akan makin akurat," kata Gus Ipul.

Gus Ipul menegaskan perubahan desil tidak serta-merta membuat seseorang dicoret dari daftar penerima bantuan sosial (bansos).

Penyaluran bansos tetap menunggu penetapan penerima pada periode penyaluran. Dengan demikian, perubahan posisi desil yang terjadi saat pemutakhiran data tidak otomatis menyebabkan bantuan sosial seseorang dihentikan.

"Tidak serta-merta orang yang sekarang desilnya berubah, itu otomatis dicoret (bansosnya). Karena masih menunggu penetapan pada awal bulan penyaluran. Sekarang ini kan ada lonjakan-lonjakan, itu tidak otomatis (bansos) hilang. Sementara untuk PBI itu setiap bulan sekali," kata Gus Ipul.

Desil Bukan Ukuran Langsung Penghasilan

Sementara itu, Tenaga Ahli Menteri Sosial Bidang Perencanaan dan Evaluasi Kebijakan Strategis, Andy Kurniawan, menjelaskan desil DTSEN bukan ukuran langsung untuk menentukan seseorang tergolong kaya atau miskin maupun untuk mengetahui besaran penghasilannya.

Desil merupakan pemeringkatan relatif tingkat kesejahteraan penduduk secara nasional. Setelah penduduk diurutkan berdasarkan tingkat kesejahteraan dari yang terendah hingga tertinggi, mereka kemudian dibagi menjadi 10 kelompok yang disebut desil.

"Desil itu bukan sertifikat kaya dan miskin. Desil tidak bisa disamakan secara ekuivalen dengan penghasilan. Desil 1 penghasilannya sekian atau desil 10 penghasilannya sekian, itu tidak bisa," kata Andy.

Karena bersifat relatif, posisi desil seseorang dapat berubah meskipun kondisi ekonominya tidak mengalami perubahan.

Perubahan posisi tersebut juga dapat terjadi ketika kondisi keluarga lain yang masuk dalam pemeringkatan mengalami perubahan. Dengan demikian, perubahan desil tidak selalu menunjukkan adanya perubahan kondisi ekonomi pada individu atau keluarga yang bersangkutan.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.