Kekeringan Mekong Meningkatkan Risiko Perdagangan Manusia
Oleh Puthborey Phon (Universitas Massachusetts), Lowell dan Rumi Kato Price (Universitas Washington) 360info
PERUBAHAN iklim telah memperburuk kekeringan di Delta Mekong dan bagi sebagian dari 65 juta penduduk di wilayah tersebut, tinggal di tempat yang sama bukan lagi pilihan mengingat sumber daya yang terbatas dan prospek mata pencaharian yang semakin berkurang. Migrasi selalu menjadi keputusan yang menyayat hati, tetapi bagi rumah tangga yang putus asa dan miskin yang dilanda kekeringan dan banjir tahunan, itu adalah satu-satunya pilihan yang layak. Namun, tidak semua orang berhasil mencapai tempat yang lebih baik setelah perjalanan yang sering kali berbahaya.
Sasaran yang mudah Jaringan perdagangan manusia yang beroperasi di seluruh negara Mekong memangsa para migran yang menjadi sasaran yang mudah. Mereka menjadi korban kerja paksa, pernikahan paksa, dan eksploitasi seksual.
Di sejumlah lokasi di perbatasan Kamboja, Myanmar, Thailand, Laos, dan Tiongkok, diperkirakan puluhan ribu orang, terutama dari wilayah Mekong, ditahan di luar keinginan mereka. Mereka dipaksa menjalankan penipuan siber canggih untuk geng kriminal Tiongkok dan ada pula laporan tentang pengambilan organ.
Indeks Perbudakan Global 2023 memperkirakan lebih dari 29 juta orang menjadi korban perdagangan manusia di Kawasan Asia Timur dan Pasifik pada tahun 2021, yang mencakup 59 persen dari total perkiraan global.
Protokol Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Mencegah, Menekan, dan Menghukum Perdagangan Orang, khususnya perempuan dan anak-anak, diterima secara internasional sebagai definisi global dari “perdagangan orang”, istilah yang sering digunakan secara bergantian dengan istilah lain seperti “perdagangan manusia” dan “perbudakan modern”.
Semua negara di wilayah Delta Mekong — Kamboja, Tiongkok, Laos, Myanmar, Thailand, dan Vietnam — merupakan pihak dalam protokol ini, yang juga disebut Protokol Palermo.
Namun, definisi perdagangan manusia bervariasi di seluruh wilayah hukum regional Mekong, yang mengakibatkan kurangnya pengakuan bersama terhadap para korban.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!