Kebiasaan Menggoreng Dinilai Bisa Kurangi Nutrisi dan Picu Risiko Kesehatan Anak
Ilustrasi./visi.news/halodoc.
VISI.NEWS | BANDUNG - Dokter dan ahli gizi masyarakat lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia) Dr. dr. Tan Shot Yen, M.Hum, mengingatkan bahwa kebiasaan memasak dengan cara menggoreng merupakan kesalahan umum dalam keluarga yang dapat menurunkan kualitas nutrisi makanan dan berpotensi menimbulkan masalah kesehatan di kemudian hari.
“(Nutrisi) bukan hilang, malah berubah jadi trans fat yang merugikan kesehatan,†ujar Tan dalam keterangannya dikutip, Jumat (10/4/2026).
Ia menjelaskan, proses penggorengan terutama secara deep fry dapat menghasilkan zat karsinogen pemicu kanker, akibat terbentuknya akrilamida dan polisiklik aromatik hidrokarbon. Senyawa tersebut muncul dari interaksi karbohidrat atau protein dengan suhu tinggi.
Menurutnya, konsumsi makanan gorengan yang terlalu sering pada anak dapat mengurangi penyerapan nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Kondisi ini berisiko menyebabkan kekurangan gizi sejak dini.
“Kurang gizi sejak kecil bisa jadi gangguan tumbuh kembang, kurus, kegemukan, pendek, mudah sakit,†katanya.
Tan merekomendasikan alternatif metode memasak seperti pepes, makanan berkuah dengan bumbu asam, maupun kuah santan, yang dinilai lebih aman dan tetap dapat memenuhi kebutuhan gizi keluarga.
Selain pola memasak, ia juga menekankan pentingnya pemberian ASI hingga usia dua tahun atau lebih sebagai bagian dari pemenuhan nutrisi anak.
“ASI hingga usia dua tahun atau lebih,†ujarnya.
Ia turut mendorong penguatan edukasi gizi keluarga agar variasi makanan semakin beragam dan kebutuhan gizi anak dapat terpenuhi sesuai usia.
Tan juga menyarankan masyarakat mengacu pada buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) sebagai panduan porsi makan, termasuk sayur, buah, dan protein hewani sejak masa MPASI hingga usia lima tahun. @desi
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!