Keberagamaan di Indonesia Hadapi Tantangan Paham Berlebihan Lampaui Batas
"Cara memoderasi amalan-amalan agama, yang harus disadari umat beragama adalah bagaimana agar mampu memilah ajaran agama. Karena, di setiap agama ada ajaran yang masuk wilayah inti pokok yang universal. Inti pokok itu yang diakui kebenarannya di seluruh dunia," ujarnya lagi.
Inti pokok ajaran agama yang universal tersebut, contohnya melindungi harkat dan martabat manusia, membangun kerukunan, mewujudkan kedamaian, hormat kepada orang tua, saling menolong, jangan mencuri dan sebagainya, katanya, orang yang tidak beragama pun akan diakui kebenarannya.
Karena pesan setiap agama adalah memanusiakan manusia yang diyakini semua umat manusia di dunia.
Di samping inti pokok ajaran agama, lanjutnya, dalam keberagamaan ada ajaran yang partikular dan bukan inti keberagamaan.
Pemahaman ajaran yang partikular itu, tidak hanya terjadi pada umat yang berbeda agama tetapi umat agama yang sama pemahamannya bisa berbeda-beda.
"Contohnya, di umat Islam pemahaman salat subuh dengan qunut atau tidak bisa berbeda-beda. Di umat Kristen soal liturgi dan sebagainya, atau di umat Budha dan Hindu di pura pakai dupa atau tidak, pemahamannya juga berbeda-beda. Padahal itu semua pemahaman agama bukan yang inti tetapi yang partikular," tandas Lukman Hakim.
Dia menegaskan, moderasi beragama lebih fokus pada ajaran inti pokok yang universal yang tidak boleh disimpangkan atas alasan apa pun.
Lukman berpendapat, berkesenian pada hakikatnya merupakan amalan beragama. Seni dan budaya aktualisasinya adalah ajaran agama dan wadah aktualisasi amalan ajaran agama adalah budaya itu sendiri.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!