Kata Pakar Keamanan Siber, Secara Umum Serangan Siber di 2023 akan Berkisar pada 3 Hal ini
INI PERKIRAAN ANCAMAN SIBER 2023
Tahun 2022 terbukti menjadi tahun penuh disrupsi di seluruh dunia di berbagai lini. Akibatnya, banyak negara terpaksa dengan cepat memprioritaskan kembali terhadap keamanan siber dan data. Dengan semakin dekatnya tahun 2023, pemerintah serta semua elemen masyarakat tanah air harus terus beradaptasi dengan perubahan kondisi kesehatan, politik, dan teknologi maupun tren kebocoran data yang mempengaruhi keamanan tiap individu.
Dalam keterangannya, Rabu (28/12/2022), pakar keamanan siber Pratama Persadha menjelaskan secara umum serangan siber di 2023 akan berkisar pada 3 hal, yaitu APT (Adavanced Persisten Threat), ransomware dan supply chain attack. Serangan APT seringkali adalah bentuk serangan state actor seperti serangan APT-29 dari Rusia seperti dituduhkan AS dan sekutunya.
“Perang siber masih berlangsung dan mungkin semakin besar dengan kesepakatan bantuan serta pembelian senjata antara Ukraina dan Amerika Serikat. Tentu perang konvensional saat ini selalu disertai dengan perang siber yang sebenarnya juga sudah dan sedang berlangsung saat ini,” jelas chairman Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC (Communication and Information System Security Research Center) ini.
Ditambahkan Pratama, ransomware dan malware juga masih menjadi momok masyarakat global, lebih dari 30% bentuk serangan siber adalah dengan malware dan ransomware. Indonesia bahkan sudah pernah menjadi korban dengan motif politik dalam kasus email diplomat Kemlu ke pejabat Australia. Dimana ternyata email diplomat Kemlu telah diretas hacker asal Tingkok lalu, file email yang dikirim ke pejabat Australia mengandung malware Bodi Arya.
“Peristiwa tersebut menjadi bukti bagaimana kita masih jauh dari ideal soal pengamanan siber. Sistem cegah dini harus terus ditingkatkan sehingga kemampuan mendeteksi dan mitigasi serangan bisa lebih baik lagi. Bahkan kita tahu ada serangan setelah Australia mendeteksi adanya email yang mengandung malware, artinya pengamanan Australia bisa dibilang lebih baik dari Indonesia,” tegas Pratama.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!