Kang DS, "Ud’uni astajib lakum!"
Kang DS sendiri sering mengaitkan perjalanan hidupnya dengan doa seorang ibu. Ia kerap bercerita bahwa karier politiknya—dari kepala desa, anggota dewan, hingga bupati—tidak lepas dari doa ibunya.
Sejak muda, ibunya menjadi prioritas utama. “Kalau saya dapat sesuatu, itu karena doa ibu,” katanya suatu kali.
Sejak 2014, bahkan ada ritual keluarga yang konsisten: setiap Ramadan berusaha menunaikan umrah. Tahun ini pun rencananya sama. Pagi ini, ia dijadwalkan terbang dengan Saudi Airlines ke Jeddah bersama keluarga, dan kembali ngantor pada Rabu (18/3/2026). "Umrah di Ramadan itu menjadi ritualitas penting bagi saya. Saya merasa semua do'a yang dipanjatkan di sana dikabulkan Alloh SWT," tandasnya.
Ketika disinggung kondisi Timur Tengah yang sedang tidak stabil akibat ketegangan geopolitik, jawabannya terdengar sederhana—dan sedikit fatalistik.
“Meninggal itu bisa di mana saja. Di rumah juga bisa. Kita serahkan saja takdir kepada Allah.”
Kalimat itu mungkin bukan analisis geopolitik. Tapi cukup menggambarkan cara pandangnya terhadap hidup—dan mungkin juga terhadap politik.
Sebab di balik semua aktivitas sosial dan spiritual itu, ada satu percakapan yang mulai sering terdengar di Jawa Barat: nama Kang DS dalam peta Pilkada provinsi.
Beberapa kalangan Nahdlatul Ulama di Jawa Barat bahkan pernah menyebutnya layak maju, entah sebagai calon gubernur atau wakil gubernur.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!