Kang DS, "Ud’uni astajib lakum!"
Namun reputasi religius Kang DS tidak berhenti di meja obrolan. Ia punya kebiasaan yang cukup tidak lazim bagi seorang politisi: membagikan kain kafan.
Tradisi itu bermula jauh sebelum ia menjadi bupati. Saat masih menjabat Kepala Desa Tegalluar, ia pernah menyaksikan keluarga yang kesulitan memulasara jenazah karena tidak punya perlengkapan. Sejak itu ia mulai menyediakan kain kafan untuk warga yang membutuhkan.
Sekarang, setelah kursi bupati didudukinya, program itu meluas. Desa-desa menerima bantuan perlengkapan pemulasaraan jenazah. Sebagian orang memuji kepedulian sosialnya. Sebagian lain berkelakar: mungkin ini satu-satunya program politik yang benar-benar dipakai sampai akhir hayat.
Tapi kain kafan hanyalah satu cerita.
Kang DS juga cukup rajin menyantuni anak yatim. Dalam berbagai kegiatan, santunan menjadi agenda tetap. Bahkan ia pernah mendapat julukan “Abul Yatama”, bapaknya anak-anak yatim.
Ramadan menjadi musim paling sibuk. Ribuan paket sembako dibagikan. Rumah tidak layak huni diperbaiki. Lansia dibantu. Bahkan ada program yang cukup jarang dilakukan kepala daerah: memberangkatkan marbot masjid untuk umrah.
Di daerah dengan kultur religius kuat seperti Kabupaten Bandung, kombinasi amal sosial dan simbol spiritual tentu bukan resep yang buruk.
Dalam politik lokal, pendekatan seperti itu sering jauh lebih efektif daripada baliho besar di pinggir jalan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!