K League Cetak 800 Tenaga Profesional Lewat Football Industry Academy
K League./visi.news/tv kleague.com.
VISI.NEWS | BANDUNG - Penyelenggara liga sepak bola Korea Selatan, K League, berhasil memperluas jaringannya dalam menyiapkan tenaga profesional bidang olahraga melalui program Football Industry Academy. Hingga Selasa, 5 Mei 2026, program ini telah meluluskan sekitar 800 alumni yang kini memperkuat berbagai organisasi olahraga nasional maupun internasional, termasuk Komite Olimpiade Internasional (IOC).
Manajer Tim di K League, Park Woo-in, menjelaskan bahwa lulusan akademi ini tersebar di 29 kantor pusat klub yang berlaga di divisi K League 1 dan K League 2. Data terakhir menunjukkan bahwa sekitar 30 hingga 40 persen alumni kini menempati posisi strategis di berbagai asosiasi olahraga, agensi periklanan, hingga merek pakaian olahraga ternama.
"Sekitar 100 lulusan akademi bekerja di front office klub-klub di seluruh Korea Selatan," ujar Park Woo-in.
Ia menambahkan, keberadaan tenaga ahli ini turut meningkatkan standar operasional klub, karena rata-rata setiap klub memiliki tiga hingga empat lulusan akademi. Salah satu alumni bahkan baru saja bergabung dengan IOC, menandai pencapaian besar dari program ini.
Program ini juga menerapkan biaya pendidikan sebesar 300.000 won (sekitar 200 dolar AS) untuk menjaga motivasi peserta.
Sebelumnya, program ini diberikan secara gratis, namun evaluasi menunjukkan tingkat partisipasi yang kurang serius sehingga biaya ini dipandang perlu. Park Woo-in menyatakan, tujuan utama akademi adalah memberikan pendidikan yang langsung dapat diterapkan di lapangan.
Selain itu, akademi ini menegaskan komitmennya untuk menjaga integritas dan menolak komersialisasi demi keuntungan finansial. Kurikulum difokuskan pada aspek pemasaran dan hubungan masyarakat, dengan melibatkan praktisi dari perusahaan global seperti Starbucks, Patagonia, dan The Pinkfong Company. Penggunaan data sains dalam sepak bola modern juga menjadi bagian penting dari pelatihan.
"Ketika kami menjalankan program ini secara gratis, motivasi peserta cenderung lebih lemah. Kini, dengan biaya minimal, motivasi tersebut meningkat," ujar Park Woo-in.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!