Jurnalis Indonesia dan AI: Antara Produktivitas, Peluang, dan Tantangan Etika

Desi Rossilawati
Senin, 23 Februari 2026 | 13:25 WIB
Bagikan
Jurnalis Indonesia dan AI: Antara Produktivitas, Peluang, dan Tantangan Etika

Salah satu praktik yang memantik diskusi adalah penggunaan ekstensi peramban untuk mentranskrip otomatis konten YouTube menjadi teks, lalu mengolahnya menjadi berita naratif dengan bantuan AI. Prosesnya cepat dan efisien, tapi menyisakan pertanyaan etis mengenai kedalaman verifikasi dan orisinalitas pelaporan.

Menariknya, untuk fact-checking, mayoritas jurnalis justru enggan mengandalkan AI. Mereka menilai hasil AI kerap mengandung 'halusinasi' dan kurang dapat dipercaya. Untuk verifikasi fakta, mereka lebih memilih menggunakan Google Reverse Image atau langsung menghubungi narasumber di lapangan.

Secara persepsi, 74 persen jurnalis memandang AI sebagai peluang, sementara 45 persen melihatnya sebagai ancaman. Kemudian, lebih dari 50 persen menilai AI berdampak positif terhadap produktivitas dan efektivitas kerja. Seorang editor yang sebelumnya mampu menyunting 25 artikel per hari, dengan bantuan AI dapat menyunting lebih dari 40 bahkan 60 artikel per hari. Produktivitas meningkat, jam lembur berkurang, kualitas hidup pun membaik.

Namun, sekitar 30 persen responden melihat dampak negatif AI. Misalnya, membuat jurnalis menjadi malas, analisis kurang mendalam, potensi disinformasi meningkat, hingga ketergantungan berlebihan yang dapat menurunkan kepercayaan publik. Sebanyak 15 persen lainnya bersikap netral dan cenderung mengikuti kebijakan organisasi masing-masing.

Dari sisi penyedia layanan, 47 persen jurnalis menggunakan AI dari penyedia eksternal. Menariknya, 16 persen media di Indonesia telah mengembangkan sistem AI internal. Pada organisasi yang membangun AI sendiri, umumnya tersedia pelatihan dan aturan yang jelas. Sebaliknya, pada pengguna platform eksternal seperti ChatGPT, banyak jurnalis belajar secara otodidak tanpa pelatihan memadai dan tanpa kebijakan perusahaan yang tegas.

Dalam salah satu wawancara, seorang jurnalis mengaku hasil tulisannya dibantu AI, namun editor tidak menyertakan disclaimer penggunaan AI saat berita diunggah. Praktik ini berbeda dengan media cetak yang cenderung lebih disiplin mencantumkan keterangan penggunaan AI.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.